BERITA UNGGULAN H.Albiner Sitompul dan Gagasan Embarkasi Maritim Pantai Barat Sumatera

H.Albiner Sitompul dan Gagasan Embarkasi Maritim Pantai Barat Sumatera

Oleh : Dr. Zainal Efendi Hasibuan (Dosen UIN Syuhada Padangsidempuan)

Feature Opini — Dari Titik Nol Islam Barus, Merajut Konektivitas Udara, Darat, dan Laut

Ada satu ciri yang lekat dengan sosok H. Albiner Sitompul: lobian yang dikenakannya. Penutup kepala itu menyertai berbagai penampilannya, dari lingkungan Istana hingga kegiatan di tengah masyarakat.

Dalam tulisan ini, lobian dapat dibaca sebagai penanda kedekatannya dengan akar budaya dan keyakinan. Identitas Batak dan Islam hadir berdampingan dalam perjalanan seorang prajurit yang kemudian banyak berbicara tentang sejarah, kebudayaan, dan masa depan kampung halamannya.

Dari kedekatan dengan tanah kelahiran itulah gagasan Albiner mengenai Pantai Barat Sumatera menemukan konteksnya. Ia menawarkan rencana embarkasi maritim yang menghubungkan transportasi udara, darat, dan laut sebagai bagian dari pembangunan kawasan.

Gagasan tersebut mengajak kita melihat persoalan konektivitas secara lebih luas: bagaimana hasil bumi mencapai pasar, bagaimana nelayan mengirimkan tangkapan, dan bagaimana masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pokok ketika bencana memutus jalur utama.

Dari Sibolga, Belajar tentang Tanggung Jawab

Albiner lahir di Sibolga dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat Tapanuli Tengah. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 07 Sibolga pada 1970–1976, kemudian dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Sibolga dan SMA PGRI Sibolga.

Perjalanannya membawanya ke Magelang untuk menempuh pendidikan di Akademi Militer pada 1984–1988. Setelah lulus, ia menjalani penugasan militer, termasuk di lingkungan Pasukan Pengamanan Presiden.

Salah satu bagian menarik dalam perjalanan itu adalah kedekatannya dengan B.J. Habibie. Ketika bertugas mendampingi Habibie, Albiner memperoleh pelajaran tentang ketelitian dan pertanggungjawaban melalui pengalaman sehari-hari.

Dalam kisah yang diangkat dalam pemberitaan, Habibie pernah menegurnya karena tidak mengambil uang kembalian setelah berbelanja di Jerman.

“Tompul, uang 50 cent pun kau harus pertanggungjawabkan.”

Pesannya sederhana: tanggung jawab berlaku pula pada hal-hal yang tampak kecil. Bagi seseorang yang bekerja dalam pelayanan negara, ketelitian semacam itu merupakan bagian dari integritas.

Karier Albiner kemudian membawanya melalui berbagai penugasan, antara lain sebagai Dandim 0311/Pesisir Selatan, Dandim 0211/Tapanuli Tengah, pejabat di Dinas Penerangan Angkatan Darat, Kepala Penerangan Kostrad, dan Asisten Teritorial Kodam XVII/Cenderawasih.

Ia juga pernah menjabat Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada 2014–2016, kemudian bertugas di Lemhannas pada 2016–2022.

Pengalaman di lingkungan militer, pemerintahan, dan komunikasi publik memberinya kesempatan melihat Indonesia dari berbagai ruang. Dalam membaca gagasannya hari ini, pengalaman tersebut menjadi latar yang relevan: pembangunan daerah memerlukan koordinasi antarlembaga dan hubungan yang kuat antara pusat dengan wilayah.

Barus dan Upaya Merawat Ingatan

Perhatian Albiner terhadap daerah asal juga terlihat melalui keterlibatannya dalam Jam’iyah Batak Muslim Indonesia atau JBMI. Saat menjabat Ketua Umum DPP JBMI periode 2016–2021, ia turut mendorong perhatian terhadap jejak sejarah Islam dan kebudayaan Batak.

Berita Terkait  FISIP USU Gelar PKM di Sekolah Parulian 1 Medan, Dorong Optimalisasi Tata Kelola Sekolah

Salah satu wilayah yang mendapat perhatian itu adalah Barus.

Sejarah Barus mempertemukan kisah perdagangan, pelayaran, hasil hutan, dan perkembangan agama. Nama kota ini mengingatkan kita bahwa pesisir barat Sumatera memiliki tempat dalam pembicaraan mengenai hubungan Nusantara dengan dunia luar.

Meski demikian, penanggalan kedatangan Islam, identifikasi nama tempat dalam sumber kuno, serta hubungan perdagangan lintas peradaban tetap perlu dibaca dengan memperhatikan bukti dan perbedaan penafsiran sejarah.

JBMI turut menginisiasi pembangunan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara di kawasan Pasar Baru Gerigis, Barus. Presiden Joko Widodo meresmikannya pada 24 Maret 2017.

Bentuk bola dunia dengan tiga penyangga pada tugu tersebut dapat dibaca sebagai simbol perjumpaan kebudayaan dan keterhubungan. Dalam pemaknaan yang dikemukakan dalam tulisan ini, tiga penyangga itu dihubungkan dengan Dalihan Na Tolu: somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu.

Monumen tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya merawat sejarah lokal dalam ingatan kebangsaan.

Perhatian Albiner terhadap sejarah juga dituangkan melalui buku berjudul Tarekat Naqsyabandiyah Tuan Syekh Ibrahim Sitompul dalam Perjalanan Sufi Tanah Batak dalam Perjuangan Kemerdekaan RI. Buku itu dibahas di IAIN Padangsidimpuan pada 20 April 2022.

Melalui karya tersebut, ia mengangkat perjalanan Syekh Ibrahim Sitompul, penyebaran Islam, serta hubungan dakwah dengan pendekatan kebudayaan di Tanah Batak.

JBMI juga pernah mengusulkan Megawati Soekarnoputri dan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul sebagai Pahlawan Nasional pada 19 Oktober 2020. Usulan tersebut merupakan bagian dari pandangan dan aspirasi organisasi, yang tentu berbeda dari penetapan resmi gelar kepahlawanan.

Keterlibatan dalam penulisan sejarah dan kegiatan kebudayaan memperlihatkan sisi lain perjalanan Albiner setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan militer. Ia berusaha membawa nama, tempat, dan pengalaman lokal ke dalam pembicaraan yang lebih luas.

Membaca Luka Konektivitas Pantai Barat

Bencana banjir dan longsor yang melanda Pantai Barat pada November 2025 kembali memperlihatkan kerentanan hubungan antardaerah. Ketika jalan terputus, dampaknya merambat ke distribusi pangan, pengiriman hasil pertanian, aktivitas perdagangan, dan mobilitas warga.

Pemulihan jalan menjadi kebutuhan mendesak. Namun, pengalaman itu juga membuka ruang untuk pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa kuat sistem transportasi kita menghadapi gangguan berulang?

Melalui Yayasan Riandja Sangap Gabe Arta, Albiner mengangkat gagasan penguatan konektivitas Pantai Barat. Dalam rangkaian komunikasi dengan pemerintah daerah dan Universitas Sumatera Utara yang disebut dalam naskah ini, salah satu usulannya adalah pembukaan akses melalui Pahae menuju Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Berita Terkait  Buku Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme, Rais Khair: Jejak Pengabdian Perlu Diabadikan

Gagasan tersebut menempatkan Terminal Tarutung, Terminal Pandan, dan Pelabuhan Sibolga dalam kerangka hubungan transportasi yang lebih terpadu. Konektivitas udara melalui Bandara Silangit juga menjadi bagian dari pembicaraan mengenai akses kawasan.

Intinya adalah mempertemukan fungsi setiap simpul transportasi: bandara sebagai pintu mobilitas udara, jalan dan terminal sebagai penghubung darat, serta pelabuhan sebagai jalur pergerakan manusia dan barang melalui laut.

Dalam kerangka itu, usulan akses Pahae–Tukka layak dibaca sebagai upaya mencari jalur alternatif. Jika secara teknis memungkinkan, jalur tersebut diharapkan dapat mendukung hubungan kawasan pedalaman dengan Pandan, Sibolga, dan wilayah pesisir lainnya.

Namun, manfaatnya perlu dibuktikan melalui kajian. Kondisi lereng, struktur tanah, potensi longsor, kebutuhan lahan, biaya pembangunan, dan biaya pemeliharaan harus diperhitungkan bersama.

Kelayakan sebuah jalan juga ditentukan oleh masyarakat yang dilayaninya. Apakah ongkos angkut menjadi lebih rendah? Apakah waktu tempuh lebih singkat? Apakah akses pelayanan dasar membaik? Apakah jalur tersebut dapat berfungsi ketika ruas lain terganggu?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan memberi ukuran nyata bagi gagasan konektivitas.

Embarkasi Maritim sebagai Gagasan Pembangunan Kawasan

Dalam rencana yang ditawarkan Albiner, istilah “embarkasi maritim” digunakan untuk menggambarkan keterhubungan kegiatan ekonomi dan transportasi yang bertumpu pada potensi pesisir.

Pantai Barat Sumatera Utara, terutama Tapanuli Tengah dan Sibolga, memiliki sumber daya yang dapat dikembangkan melalui perikanan tangkap, budi daya laut, wisata bahari, dan jasa kepelabuhanan.

Potensi tersebut memerlukan dukungan yang konkret: akses jalan, fasilitas penyimpanan hasil perikanan, layanan perawatan kapal, kepastian distribusi, serta perlindungan ekosistem pesisir.

Pembangunan pelabuhan, misalnya, akan lebih bermanfaat ketika terhubung dengan sentra produksi dan pasar. Begitu pula jalan baru akan memiliki nilai ekonomi jika membantu petani, nelayan, pedagang, dan pelaku usaha menjangkau tujuan mereka dengan lebih efisien.

Di sinilah gagasan Albiner menarik untuk dibahas. Ia mengajak berbagai pihak melihat hubungan udara, darat, dan laut sebagai satu sistem pelayanan kawasan.

Bagi penulis, kekuatan gagasan tersebut terletak pada upayanya menghubungkan kembali wilayah yang selama ini kerap dibicarakan secara terpisah. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan hubungan itu menjadi perencanaan yang terukur dan dapat dilaksanakan.

Infrastruktur Hijau dan Kehidupan Masyarakat

Konektivitas Pantai Barat tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan. Jalan, sungai, hutan, permukiman, dan pesisir berada dalam hubungan yang saling memengaruhi.

Karena itu, gagasan pembangunan kawasan perlu berjalan bersama pemulihan lingkungan. Beberapa pendekatan yang diangkat dalam naskah ini dapat menjadi bahan pembahasan.

Pertama, pemulihan fungsi sungai dan tata air. Penanganan sedimentasi perlu memperhatikan kondisi hulu, aliran air, dan titik penyempitan. Pengerukan mungkin diperlukan pada lokasi tertentu, tetapi keberlanjutannya bergantung pada penanganan sumber persoalan.

Berita Terkait  Polres Pematangsiantar Ungkap 103 Kasus Narkoba dan Berbagai Kasus Kriminal

Kedua, konservasi tanah dan penguatan vegetasi. Penggunaan vetiver, bambu, serta tanaman lain perlu disesuaikan dengan karakter lahan. Pada kawasan dengan risiko longsor yang tinggi, pendekatan vegetatif harus didukung kajian dan penanganan teknis yang memadai.

Ketiga, rehabilitasi hulu yang mendukung penghidupan. Budi daya kemenyan dan komoditas lokal lainnya dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan kesesuaian lahan serta pengetahuan masyarakat. Tujuannya adalah mempertemukan pemulihan lingkungan dengan keberlanjutan ekonomi warga.

Keempat, pelibatan masyarakat dalam pekerjaan pemulihan. Skema food for work atau bentuk padat karya lainnya perlu dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat, dengan imbalan yang layak dan pelaksanaan yang transparan.

Kelima, perlindungan habitat dan koridor satwa. Setiap rencana akses baru perlu memperhatikan kawasan bernilai konservasi, termasuk bentang alam Batang Toru. Kebutuhan jembatan tajuk, lintasan bawah satwa, atau penyesuaian trase harus ditentukan melalui kajian ekologis.

Kelima pendekatan tersebut menempatkan lingkungan sebagai bagian dari ketahanan infrastruktur. Jalan yang melayani masyarakat dalam jangka panjang membutuhkan bentang alam yang juga terjaga.

Pulang dan Mengabdikan Diri

Dalam pernyataannya mengenai kesiapan mengabdi kepada Tapanuli Tengah pada 2024, Albiner menyampaikan kalimat yang personal:

“Siap wakafkan hidup saya untuk Tapteng tercinta. Bila Allah menjemput takdirku, sudah saya nyatakan kepada anak istri, makamkan saya di tanah Tapteng.”

Pernyataan itu memperlihatkan kuatnya ikatan dengan daerah asal. Setelah melalui berbagai penugasan, Tapanuli Tengah tetap menjadi tempat yang ingin ia tuju dan layani.

Bagi penulis, rencana embarkasi maritim Pantai Barat dapat dibaca dalam semangat kepulangan tersebut. Ada usaha membawa pengalaman dari luar daerah untuk menjawab persoalan yang dirasakan masyarakat di kampung halaman.

Semangat itu perlu memperoleh ruang pembahasan yang terbuka. Pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerhati lingkungan dapat menguji kelayakan usulan serta memperbaiki bagian yang masih memerlukan pendalaman.

Dukungan terhadap gagasan pembangunan akan lebih bermakna ketika disertai kesediaan menilai manfaat, biaya, dan konsekuensinya secara jernih.

Dari Barus, kita diajak merawat ingatan tentang hubungan pesisir dengan dunia luar. Melalui gagasan konektivitas Pantai Barat, kita diajak memikirkan bagaimana hubungan itu dapat memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat hari ini.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan berada pada perubahan yang dirasakan warga: hasil tangkapan lebih mudah dipasarkan, hasil kebun lebih lancar diangkut, perjalanan lebih aman, dan kebutuhan pokok tetap tersedia ketika bencana datang.

Di situlah harapan tentang Pantai Barat yang terhubung menemukan maknanya.

Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah dari Pantai Barat.

BERITA FEATURE OPINI

Editor : Faisal