
Labuhanbatu, inidetik.com — Di sebuah sudut sunyi Kelurahan Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, tersimpan kisah yang menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Di rumah sederhana itu, hidup seorang ibu dan anak dalam keterbatasan bertahan dengan cara yang tak pernah mereka pilih.
Ibu Nuraini (62), seorang janda yang telah lama ditinggal wafat suaminya, kini berjuang melawan penyakit diabetes yang menggerogoti tubuhnya. Hari-harinya dilalui dengan rasa sakit, dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan.
Namun, beban hidupnya tak berhenti di situ.
Safrizal (18), anak yang ia sayangi, mengalami gangguan mental yang membuatnya sulit dikendalikan. Dalam kondisi tanpa akses pengobatan yang memadai, keluarga mengambil langkah yang menyayat hati merantai kaki Safrizal demi mencegahnya pergi atau membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Pemandangan itu bukan sekadar potret kemiskinan, melainkan jeritan sunyi yang lama tak terdengar.
Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, secercah harapan akhirnya datang. Forkopimcam Plus Panai Hilir hadir menjenguk langsung kondisi Nuraini dan Safrizal. Kunjungan itu bukan hanya formalitas, melainkan wujud nyata kepedulian.
Raut wajah haru tak bisa disembunyikan ketika rombongan melihat langsung kondisi Safrizal yang terbelenggu rantai. Empati pun mengalir.
Perwakilan Forkopimcam, Afrizal, S.Km memastikan bahwa Ibu Nuraini akan mendapatkan perhatian dan bantuan pengobatan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kapolsek Panai Hilir IPTU Yuna H. Gultom menegaskan pentingnya penanganan yang lebih manusiawi bagi Safrizal.
Ia menyarankan agar pihak keluarga segera melepaskan rantai di kaki Safrizal, sembari memastikan bahwa pemerintah bersama unsur Forkopimcam akan mengupayakan rujukan pengobatan yang layak.
“Kita ingin penanganan yang lebih manusiawi. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Kehadiran Camat Panai Hilir, pihak Puskesmas Sei Berombang, serta unsur terkait lainnya menjadi bukti bahwa negara tidak boleh abai terhadap warganya yang membutuhkan.
Di rumah sederhana itu, hari itu, bukan hanya kunjungan yang terjadi tetapi lahirnya harapan baru.
Harapan bahwa Nuraini bisa menjalani hari tuanya dengan lebih layak. Harapan bahwa Safrizal bisa mendapatkan perawatan yang semestinya, tanpa harus terbelenggu lagi.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan data kemiskinan, ada manusia, ada air mata, dan ada harapan yang menunggu untuk diselamatkan.
BERITA LABUHANBATU
Writer: Budi | Editor: FS


