UNIMED Gelar Kuliah Umum: Ekologi, Spiritualitas, dan Komunitas Adat Jadi Sorotan Pendidikan Sejarah

Medan | inidetik.com Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan (UNIMED) menggelar kuliah umum bertema “Lingkungan sebagai Ruang Spiritual dan Ruang Hidup Komunitas Adat”, Senin (1/12), di Ruang Audio Visual.

Kegiatan ini menghadirkan dialog antara isu ekologi, spiritualitas, dan keberagaman budaya melalui paparan narasumber, pameran visual, dan partisipasi aktif mahasiswa.

Kuliah umum ini merupakan bagian dari integrasi mata kuliah Teori Kebudayaan yang diampu oleh Sry Lestari Samosir, M.Sos., penerima Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB) 2025. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami dinamika komunitas adat dan kelompok penghayat tidak hanya secara teori, tetapi melalui pengalaman langsung dan refleksi visual.

Acara dibuka oleh Dr. Hidayat, M.Si., yang menegaskan bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia telah mencapai titik mengkhawatirkan. Ia menyoroti data deforestasi dan menekankan bahwa persoalan ekologi berkaitan erat dengan hilangnya ruang hidup dan ruang spiritual komunitas adat. “Ini bukan hanya soal hutan, tetapi soal keberlanjutan budaya dan martabat manusia,” ujarnya.

Dua narasumber turut memberikan perspektif mendalam.

Monang Naipospos, budayawan dan penghayat Parmalim, menguraikan kosmologi Batak yang memandang alam sebagai bagian dari tubuh spiritual manusia. Ia menjelaskan sejumlah kearifan lokal Batak dalam menjaga keseimbangan ekologis.

Sementara itu, Pastor Alexander Silaen, mantan Direktur JPIC Kapusin Medan, mengajak peserta merenungkan hubungan moral manusia dengan alam. “Krisis ekologis berakar dari krisis moral,” ujarnya, seraya mendorong mahasiswa untuk menumbuhkan pertobatan ekologis sebagai landasan etika merawat bumi.

Selain paparan narasumber, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Expo Kebinekaan, menampilkan poster ilmiah mahasiswa tentang komunitas adat, konflik ekologi, dan dokumentasi perjuangan kelompok penghayat dalam mempertahankan ruang keyakinannya. Foto-foto kasus intoleransi serta diskriminasi turut ditampilkan sebagai pengingat bahwa isu keberagaman masih membutuhkan perhatian serius.

Di akhir kegiatan, mahasiswa mengikuti sesi Pohon Harapan, di mana mereka menuliskan pesan-pesan tentang masa depan Indonesia yang lebih hijau, inklusif, dan humanis. Aktivitas ini menjadi simbol komitmen mahasiswa untuk ikut merawat keberagaman dan menjaga lingkungan.

Ketua panitia, Sry Lestari Samosir, berharap kegiatan ini dapat membuka cakrawala mahasiswa dalam melihat keterkaitan antara ekologi, identitas budaya, dan nilai-nilai spiritual. “Pendidikan sejarah tidak berhenti pada masa lalu. Ia harus menjadi ruang merawat masa depan,” tegasnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, UNIMED kembali menegaskan posisinya sebagai kampus yang mendorong pendidikan inklusif, humanis, dan berorientasi pada keberlanjutan.(*)