
Penulis : Dr. Jannus TH Siahaan, Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan. Editor : Faisal
Ada kehilangan yang tidak bisa diukur dengan usia, jabatan, ataupun panjangnya sejarah. Bagi Tun Dr. Mahathir Mohamad, kepergian Tun Dr. Siti Hasmah Mohd Ali pada 28 September 2026 bukan sekadar kehilangan seorang istri. Ia kehilangan seseorang yang telah berjalan bersamanya sejak keduanya masih muda, ketika nama mereka belum dikenal sebagai bagian dari sejarah Malaysia.
Selama 70 tahun pernikahan, kehidupan mereka melewati begitu banyak perubahan. Dari masa Malaya menuju Malaysia, dari kehidupan sebagai dokter hingga panggung kenegaraan, dari rumah tangga yang relatif sederhana hingga menjadi pasangan yang selalu berada dalam perhatian publik. Hasmah pergi pada usia 100 tahun, sementara Mahathir kini berusia 101 tahun. Mereka bahkan baru menandai tujuh dekade pernikahan pada Agustus 2026.
Namun, mungkin bukan angka-angka itu yang paling menarik dari kisah mereka. Yang lebih manusiawi justru adalah sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana rasanya menjalani hampir seluruh kehidupan dewasa bersama orang yang sama, lalu suatu hari harus menjalani hari tanpa dirinya?
Di antara kabar kepergian dan ungkapan belasungkawa, ada kehidupan panjang yang patut dikenang. Dua orang pernah saling memilih, bertumbuh dalam pilihannya, melewati masa-masa sulit, membesarkan keluarga, dan kemudian membawa pengalaman kebersamaan itu ke dalam pengabdian kepada negeri.
Karena itu, kisah Mahathir dan Hasmah menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai bagian dari kronik kekuasaan Malaysia, melainkan sebagai kisah dua manusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama.
Ada cinta yang tidak selesai ketika masa muda berakhir. Ia justru berubah bentuk menjadi kebiasaan saling menunggu, saling memahami, berbagi keputusan, dan menjadi tempat kembali ketika kehidupan di luar rumah semakin rumit.
Bermula dari Bangku Kedokteran
Kisah itu bermula di sekolah kedokteran di Singapura.
Pernikahan mereka pada Agustus 1956 berlangsung sebelum Malaya merdeka, jauh sebelum Mahathir menjadi tokoh yang namanya memenuhi halaman sejarah Asia. Saat itu, Hasmah mengenal Mahathir bukan sebagai perdana menteri, bukan sebagai negarawan, dan bukan sebagai figur politik yang kemudian dikenal luas.
Ia mengenalnya sebagai seorang manusia.
Mereka bertemu ketika gelar, pengawalan, jabatan dan kekuasaan belum menentukan cara orang lain menyapa mereka. Hubungan yang tumbuh dalam keadaan seperti itu memiliki simpanan pengalaman yang panjang.
Seseorang dikenal melalui proses menjadi. Ada kecakapan, ada kekurangan, ada kebiasaan yang menyenangkan, ada pula sifat yang sesekali menguji kesabaran. Dalam perjalanan seperti itu, kedekatan pasangan dapat menjadi tempat berpijak ketika kehidupan publik semakin riuh.
Dalam wawancara dengan Options pada 2018, Tun Hasmah berbicara tentang kepercayaan, cinta dan perhatian terhadap kebutuhan pasangan. Ia mengakui bahwa seperti pasangan rumah tangga pada umumnya, mereka juga pernah bertengkar karena perkara-perkara kecil.
Tetapi pertengkaran itu tidak selalu menjadi akhir.
Mereka berdamai.
Dengan ringan, Hasmah bahkan menggambarkan bagian berdamai tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Di situlah barangkali letak sisi manusiawi dari sebuah perkawinan yang berlangsung selama tujuh dekade. Kehidupan bersama bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat. Kesetiaan justru sering kali tumbuh dari kesediaan untuk kembali berbicara setelah marah, mencoba memahami kekesalan pasangan, kemudian memberikan ruang agar masing-masing dapat kembali menjadi dirinya sendiri.
Tidak ada kamera yang merekam pekerjaan kecil semacam itu.
Tidak ada berita utama yang memberitakannya.
Tetapi justru pekerjaan kecil itulah yang sering membuat sebuah rumah tangga bertahan.
Bukan Karena Tidak Pernah Bertengkar
Dalam psikologi pasangan, kemampuan menghadapi tekanan secara bersama dikenal sebagai dyadic coping, yakni cara pasangan saling mendukung ketika menghadapi tekanan dan persoalan kehidupan.
Meta-analisis Mariana Falconier dan rekan-rekannya pada 2015 yang melibatkan 17.856 peserta menemukan hubungan positif antara kemampuan dyadic coping dan kepuasan dalam hubungan.
Temuan tersebut tentu tidak dapat digunakan untuk memastikan mengapa perkawinan Mahathir dan Hasmah mampu bertahan selama 70 tahun. Tetapi konsep itu membantu kita memahami satu hal sederhana: hubungan panjang tidak selalu dibangun karena dua orang tidak pernah bertengkar.
Justru mungkin karena setelah pertengkaran, mereka masih bersedia kembali duduk bersama.
Ketika salah satu sedang lelah, yang lain mengambil sebagian beban. Ketika salah satu menghadapi tekanan, yang lain menyediakan tempat untuk berbicara. Ketika dunia di luar rumah menuntut seseorang untuk selalu terlihat kuat, rumah dapat menjadi tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura.
Dukungan seperti itu memberi ruang bagi seseorang untuk pulih sebelum kembali menghadapi kehidupan.
Dalam perjalanan Mahathir dan Hasmah, keduanya juga tetap memiliki ruang untuk berkembang sebagai pribadi.
Hasmah tetap dikenal dengan perjalanan profesionalnya sebagai dokter dan pengabdiannya di bidang kesehatan. Mahathir berkembang menjadi seorang tokoh politik dan negarawan.
Keduanya tidak harus menjadi orang yang sama untuk dapat berjalan bersama.
Justru karena memiliki kehidupan dan panggilan masing-masing, kebersamaan mereka menjadi lebih luas.
Ketika Kekuasaan Berarti Bersiap untuk Berkemas
Perjalanan politik Mahathir membawa perubahan besar ke dalam kehidupan keluarga.
Ia memimpin Malaysia pada 1981–2003 dan kembali menjadi perdana menteri pada 2018–2020. Di antara masa-masa tersebut, kehidupan keluarga mereka juga harus mengikuti perubahan politik yang tidak selalu dapat diprediksi.
Dalam wawancara yang sama, Hasmah pernah mengenang bagaimana setiap kali menghadapi pemilu, muncul pertanyaan apakah mereka harus mulai membereskan rumah untuk berpindah.
Ada sesuatu yang menarik dari kenangan sederhana itu.
Bagi sejarah, pemilu berbicara tentang kekuasaan, pemerintahan dan perubahan politik.
Bagi seorang istri, pemilu bisa berarti kardus, barang-barang yang harus dikemas, rumah yang mungkin ditinggalkan, dan kehidupan yang kembali harus disusun.
Kekuasaan pada akhirnya adalah sesuatu yang datang dan pergi.
Rumah harus tetap menjadi rumah.
Kehidupan harus tetap berjalan setelah keputusan politik selesai dibuat.
Dan di tengah perubahan itu, seseorang membutuhkan orang lain yang tetap berada di sampingnya.
Ketika Hubungan Pribadi Menyentuh Sejarah Politik
Kedekatan keluarga bahkan pernah bersinggungan dengan salah satu episode politik penting Malaysia.
Pada Mei 2018, Anwar Ibrahim mengatakan bahwa kedekatan antara Tun Hasmah dan Wan Azizah Wan Ismail memainkan peran dalam proses rekonsiliasinya dengan Mahathir.
Hubungan politik antara Mahathir dan Anwar sebelumnya mengalami sejarah panjang yang penuh ketegangan. Karena itu, proses menuju kerja sama kembali bukan perkara sederhana.
Namun, hubungan personal kadang membuka pintu yang sulit dibuka oleh pertemuan politik.
Kedekatan antara dua perempuan yang berada di lingkungan keluarga masing-masing dapat membantu menjaga percakapan tetap berlangsung ketika hubungan politik berada dalam keadaan sulit.
Rekonsiliasi tentu memiliki dimensi kepentingan dan perhitungan politik. Tetapi di balik sejarah besar itu terdapat manusia dengan hubungan personal yang tidak selalu terlihat dalam catatan resmi.
Inilah salah satu sisi kehidupan keluarga yang menarik untuk dikenang.
Kadang-kadang sejarah tidak hanya bergerak melalui ruang sidang, parlemen atau ruang pertemuan politik. Ia juga dapat menemukan jalannya melalui percakapan keluarga, kepercayaan pribadi dan hubungan yang dibangun jauh sebelum seseorang menduduki jabatan.
Hasmah dan Jalan Pengabdian
Namun, Hasmah bukan hanya seseorang yang dikenal karena menjadi istri seorang perdana menteri.
Ia memiliki perjalanan hidup dan pengabdiannya sendiri.
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, ia memilih mengabdikan diri kepada masyarakat, termasuk mereka yang hidup jauh dari pusat kota.
Kepada UNICEF, Hasmah pernah mengenang pasien-pasien di desa Kedah yang terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan karena persoalan kendaraan dan biaya perjalanan.
Ia juga mengingat pelatihan bagi para bidan serta pembagian perlengkapan persalinan yang bersih.
Pengalaman tersebut memperlihatkan persoalan kesehatan dalam bentuk yang sangat nyata.
Bagi seorang ibu di desa, keterlambatan mendapatkan pertolongan bukan sekadar persoalan statistik. Jarak, uang, sarana transportasi dan pengetahuan dapat menentukan apakah seseorang mendapatkan pertolongan tepat waktu atau tidak.
Dari pengalaman semacam itu, pengabdian menjadi sesuatu yang konkret.
Bukan hanya berbicara tentang manusia, tetapi hadir ketika manusia membutuhkan pertolongan.
Pada 1995, Hasmah juga memimpin delegasi Malaysia dalam Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing.
Perhatiannya terhadap kesejahteraan perempuan dengan demikian tidak berhenti pada pelayanan kesehatan. Pengalaman sebagai dokter membawanya ke ruang yang lebih luas, termasuk forum internasional yang membicarakan masa depan perempuan.
Jejak tersebut penting dikenang karena memperlihatkan bahwa kehidupan Hasmah tidak berhenti pada identitasnya sebagai pasangan Mahathir.
Ia memiliki perjalanan pengabdian sendiri.
Ketika Cinta Tidak Berhenti di Rumah
Dalam Political Emotions: Why Love Matters for Justice, Martha Nussbaum membahas bagaimana emosi dan rasa kasih dapat memiliki tempat dalam kehidupan publik.
Gagasan tersebut membantu menjelaskan satu hal: kepedulian terhadap orang lain dapat berkembang dari pengalaman merawat mereka yang dekat, kemudian meluas kepada orang-orang yang bahkan tidak kita kenal.
Tentu saja, kasih dalam keluarga tidak otomatis menjadi kepedulian publik.
Kasih yang berhenti di lingkungan keluarga bahkan dapat berubah menjadi alasan untuk mengistimewakan orang-orang terdekat.
Karena itu, kehidupan keluarga yang hangat tetap harus dibedakan dari bagaimana kekuasaan digunakan dan bagaimana kebijakan dibuat.
Riwayat perkawinan yang panjang tidak menghapus kewajiban mempertanggungjawabkan keputusan politik.
Justru pelajaran yang lebih universal adalah bagaimana kepedulian terhadap manusia dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang memberi manfaat lebih luas.
Orang yang kesulitan berobat membutuhkan kebijakan kesehatan.
Orang yang kehilangan penghasilan membutuhkan perlindungan sosial.
Perempuan di daerah terpencil membutuhkan akses terhadap pelayanan dan kesempatan.
Cinta menjadi bermakna dalam kehidupan publik ketika kepedulian tidak berhenti pada kata-kata.
Dari Mahathir-Hasmah hingga Habibie-Ainun
Bagi pembaca Indonesia, kisah Mahathir dan Hasmah mengingatkan pada kisah pasangan lain yang juga begitu dekat dengan ingatan publik: Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Habibie.
Publik mengenang Habibie dan Ainun sebagai pasangan yang menjalani perjalanan hidup bersama dalam berbagai keadaan. Namun, yang menarik bukan semata-mata romantisme hubungan mereka.
Ainun juga memiliki jejak pengabdian sendiri.
Perhatiannya terhadap donor mata dan kegiatan sosial memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi dapat berlanjut menjadi perhatian terhadap kehidupan orang lain.
Keterlibatan Ainun bersama Habibie dan keluarga dalam pendirian The Habibie Center pada 1999 juga memperlihatkan bagaimana sebuah kehidupan bersama dapat menemukan bentuk pengabdian bahkan setelah seseorang tidak lagi berada di dalam jabatan pemerintahan.
Pada titik ini, kehidupan Mahathir-Hasmah dan Habibie-Ainun dapat dibaca dalam satu benang merah: pasangan hidup tidak hanya menjadi tempat berbagi kasih, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan dalam pekerjaan yang dianggap penting.
Bagi pasangan yang jauh dari istana dan panggung politik, bentuknya tentu berbeda.
Ia bisa berupa membesarkan anak, merawat orang tua, mendukung pekerjaan pasangan, atau sekadar memastikan orang yang dicintai memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
Tidak semuanya terlihat.
Tidak semuanya perlu diketahui orang lain.
Tetapi justru di sanalah banyak bentuk pengabdian keluarga berlangsung.
Ketika Usia Hanya Menyisakan Kenangan
Dalam memoarnya, My Name Is Hasmah, Hasmah menyinggung tentang penglihatannya yang semakin melemah.
Ada bagian yang terasa sangat manusiawi.
Ketika orang-orang mengatakan bahwa Mahathir masih tampan pada usia 90 tahun, Hasmah mengatakan ia ingin dapat melihatnya dengan jelas.
Ia ingin membandingkan lelaki tua di hadapannya dengan mahasiswa muda yang dahulu dicintainya.
Kalimat sederhana itu mungkin menjadi salah satu gambaran paling indah tentang bagaimana waktu bekerja.
Tubuh berubah.
Rambut berubah.
Wajah berubah.
Kekuatan fisik berkurang.
Tetapi ingatan seseorang tentang orang yang dicintainya pada masa muda dapat tetap hidup.
Bagi dunia, Mahathir adalah seorang negarawan berusia lebih dari satu abad yang namanya tercatat dalam sejarah politik Malaysia.
Bagi Hasmah, ia tetap seorang lelaki yang pernah dikenalnya ketika mereka masih muda.
Begitu pula sebaliknya.
Di balik jabatan dan sejarah besar, ada dua orang yang pernah menjalani pagi-pagi biasa, makan bersama, berbicara tentang keluarga, bertengkar karena hal kecil, lalu kembali berdamai.
Kini Mahathir Harus Melanjutkan Hidup
Tujuh puluh tahun merupakan waktu yang begitu panjang.
Cukup panjang untuk melihat anak-anak tumbuh, kemudian memiliki anak, bahkan cucu dan cicit.
Dalam tradisi Batak Toba dikenal konsep saur matua, sebuah penghormatan terhadap orang tua yang meninggal ketika anak-anaknya telah menikah dan memiliki keturunan. Sementara dalam sebagian tradisi Tionghoa dikenal pula penghormatan terhadap usia lanjut sebagai bagian dari perjalanan hidup yang lengkap.
Tradisi-tradisi tersebut mengingatkan kita bahwa usia panjang bukan hanya tentang jumlah tahun.
Ia adalah kesempatan untuk melihat kehidupan tumbuh melewati beberapa generasi.
Hasmah memperoleh kesempatan tersebut.
Ia menyaksikan anak, cucu dan cicitnya tumbuh.
Dan ketika akhirnya ia pergi pada usia 100 tahun, kesedihan orang-orang yang ditinggalkan tentu tetap memiliki tempatnya sendiri.
Sebab kehidupan yang panjang tidak membuat kehilangan menjadi ringan.
Justru semakin panjang seseorang menemani kita, semakin banyak ruang yang ditinggalkannya ketika ia pergi.
Kini Mahathir harus menjalani ruang itu.
Pada usia 101 tahun, ia bukan lagi hanya seorang mantan perdana menteri yang memiliki perjalanan politik panjang.
Ia adalah seorang suami yang kehilangan perempuan yang menemaninya selama tujuh dekade.
Mungkin ada benda-benda kecil di rumah yang tiba-tiba terasa berbeda.
Kursi yang biasanya ditempati.
Percakapan yang tidak lagi terdengar.
Rutinitas yang tiba-tiba kehilangan pasangan.
Foto lama yang memiliki cerita sendiri.
Dan kenangan tentang seorang perempuan yang dahulu hadir sebagai teman belajar, kemudian menjadi istri, ibu, dokter, sahabat, sekaligus teman perjalanan hidup.
Pada akhirnya, mungkin bukan jabatan yang paling penting dari perjalanan panjang Mahathir dan Hasmah.
Bukan pula usia yang mencapai satu abad.
Bukan hanya tujuh dekade yang tercatat sebagai lamanya mereka menjadi suami dan istri.
Yang tersisa justru adalah hal-hal kecil yang tidak pernah masuk ke dalam buku sejarah: percakapan di rumah, pertengkaran yang kemudian berakhir dengan damai, keputusan yang dibicarakan berdua, perjalanan yang dilewati bersama, dan seseorang yang selalu tahu bagaimana kehidupan pasangannya dimulai sebelum dunia mengenalnya.
Kini Hasmah telah pergi
Mahathir masih melanjutkan perjalanan dengan membawa tujuh puluh tahun kenangan yang tidak mungkin diulang.
Mungkin tidak banyak lagi yang perlu dikatakan.
Sebab ada hubungan yang sudah terlalu panjang untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Ada cinta yang tidak perlu dibuktikan dengan kalimat besar, karena buktinya telah berupa waktu.
Tujuh puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk mengatakan satu hal sederhana: aku tetap di sini.
Dan ketika akhirnya salah seorang harus pergi lebih dahulu, yang tertinggal bukan hanya kesedihan.
Ada rasa syukur karena pernah dipertemukan.
Pernah berjalan bersama.
Pernah menua bersama.
Pernah menyaksikan keluarga tumbuh.
Dan pernah memiliki seseorang yang, selama tujuh puluh tahun, menjadi bagian dari hampir seluruh perjalanan hidup.
Selamat beristirahat dengan damai, Tun Dr. Siti Hasmah Mohd Ali.
Bagi sejarah, nama Anda akan dikenang sebagai dokter, tokoh perempuan dan pendamping seorang negarawan.
Namun bagi Mahathir, dan bagi keluarga yang ditinggalkan, Anda mungkin akan selalu menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana dan lebih berharga:
perempuan yang berjalan bersamanya sejak muda, lalu menemaninya sampai usia senja.
Dan kini, setelah tujuh puluh tahun bersama, Mahathir harus belajar menjalani hari-hari berikutnya tanpa tangan yang selama ini menggenggam tangannya.


