
inidetik.com — Ada satu gambaran tentang surga yang begitu sering kita dengar dalam ayat-ayat Al-Qur’an: sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.
Gambaran itu terasa indah. Air yang mengalir, taman yang hijau, suasana yang menenteramkan dan kehidupan yang jauh dari segala kegelisahan.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa Al-Qur’an begitu sering menggambarkan surga dengan sungai dan air yang mengalir?
Pertanyaan itulah yang menarik ketika membaca tema khutbah “Berita Tentang Surga di Abad Teknologi” karya KH. Husin Naparin, Lc., MA, yang terdapat dalam Kumpulan Khutbah Jum’at dan Ied Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam yang diterbitkan dalam konteks program Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia.
Khutbah tersebut tidak sekadar mengajak jamaah membayangkan kenikmatan akhirat. Ada sebuah pesan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: bagaimana manusia memperlakukan air, sungai dan lingkungan tempat mereka hidup.
Al-Qur’an menggambarkan surga sebagai tempat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Dalam khutbah itu, gambaran tersebut dikaitkan dengan kehidupan manusia di dunia.
“Surga itu mempunyai kenikmatan sempurna, panorama indah dan menjadi taman rindang,” demikian salah satu bagian yang dikutip dari khutbah tersebut.
Kalimat itu sebenarnya bisa membawa kita pada sebuah perenungan sederhana.
Kalau air yang mengalir menjadi bagian dari gambaran keindahan surga, bagaimana dengan sungai yang ada di depan rumah kita?
Apakah masih mengalir dengan bersih?
Atau justru berubah menjadi tempat sampah?
Kita Sering Menginginkan Lingkungan yang Indah, tetapi Lupa Menjaganya
Kita senang melihat sungai yang bersih.
Kita senang melihat taman yang hijau.
Kita ingin tinggal di lingkungan yang nyaman.
Kita ingin ketika hujan turun, air segera mengalir dan tidak menggenangi jalan.
Tetapi persoalannya, keinginan itu terkadang tidak sejalan dengan kebiasaan kita sendiri.
Satu kantong plastik dibuang ke parit mungkin terlihat kecil.
Satu botol minuman yang dilempar ke sungai mungkin terasa tidak berarti.
Satu tumpukan sampah di sudut lingkungan mungkin dianggap persoalan pemerintah atau petugas kebersihan.
Namun, ketika kebiasaan kecil tersebut dilakukan oleh banyak orang, persoalannya menjadi besar.
Khutbah dalam buku tersebut bahkan menyinggung kebiasaan membuang sampah ke sungai dan saluran air yang dapat menyebabkan aliran air tersumbat.
Di sinilah agama sebenarnya berbicara dengan bahasa yang sangat dekat dengan kehidupan.
Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis. Ia juga menyangkut perilaku manusia.
Jangan Sampai Ayat tentang Sungai Hanya Berhenti di Mimbar, Ada ironi yang menarik untuk direnungkan.
Setiap Jumat, kita datang ke masjid.
Kita mendengarkan ayat Al-Qur’an.
Kita mendengarkan nasihat tentang takwa, kebaikan dan tanggung jawab manusia.
Tetapi setelah keluar dari masjid, apakah nilai-nilai itu ikut keluar bersama kita?
Ketika melihat sampah berserakan, apakah kita merasa memiliki tanggung jawab untuk mengambilnya?
Ketika hendak membuang sampah, apakah kita masih berpikir bahwa sungai adalah tempat yang aman untuk membuangnya?
Ketika melihat lingkungan mulai rusak, apakah kita merasa itu persoalan bersama atau justru persoalan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam ini justru menjadi penting.
Sebab, dalam pengantar buku tersebut, MUI menegaskan bahwa manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, dengan amanah untuk memakmurkan bumi dan menjaga ciptaan Allah SWT.
Maka, menjaga lingkungan semestinya tidak berhenti pada slogan.
Ia harus hadir dalam kebiasaan sehari-hari.
Surga Bukan Alasan untuk Mengabaikan Bumi
Membicarakan surga bukan berarti membuat kita lupa kepada dunia, Justru sebaliknya.
Gambaran tentang surga dapat menjadi bahan renungan tentang seperti apa kehidupan yang seharusnya kita bangun di dunia.
Lingkungan yang bersih.
Air yang terjaga.
Pohon yang tumbuh.
Sungai yang tidak dipenuhi sampah.
Dan masyarakat yang hidup tanpa saling menyakiti.
Khutbah tersebut juga membawa pembaca pada dimensi lain dari gambaran surga: bukan hanya kenikmatan fisik, tetapi juga ketenteraman hati.
Dalam gambaran yang dikutip dari QS. Al-Hijr ayat 46-47, penghuni surga disebut hidup dalam keadaan aman dan terbebas dari rasa dendam.
Di sini kita menemukan pesan yang menarik.
Bumi membutuhkan tangan manusia yang peduli, sementara kehidupan sosial membutuhkan hati manusia yang bersih.
Apa gunanya lingkungan bersih jika manusia masih gemar bermusuhan?
Apa gunanya rumah besar jika penghuninya tidak saling menyapa?
Apa gunanya kemajuan teknologi jika hubungan antarmanusia justru semakin jauh?
Mungkin inilah salah satu pesan yang bisa kita tangkap dari khutbah tersebut: kehidupan yang baik membutuhkan keseimbangan antara menjaga alam dan menjaga hati.
Memulai dari Hal yang Paling Sederhana
Tidak semua orang dapat melakukan perubahan besar.
Tidak semua orang memiliki kewenangan membuat kebijakan lingkungan.
Tidak semua orang mampu melakukan aksi penghijauan dalam skala luas.
Tetapi setiap orang dapat melakukan sesuatu.
Tidak membuang sampah ke sungai.
Tidak membakar sampah sembarangan.
Menghemat air.
Menanam pohon.
Membersihkan lingkungan sekitar rumah.
Menjaga fasilitas umum.
Dan yang tidak kalah penting, mengajak keluarga serta anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.
Buku tersebut memang secara khusus disusun sebagai bahan khutbah dan pengetahuan masyarakat mengenai perlindungan serta pemeliharaan lingkungan hidup dari perspektif syariah.
Karena itu, pesan tentang lingkungan tidak harus selalu datang dalam bentuk kampanye besar.
Kadang-kadang, ia cukup dimulai dari tangan yang tidak membuang sampah sembarangan.
Pada Akhirnya, Sungai Itu Sedang Berbicara
Barangkali kita perlu melihat sungai dengan cara yang sedikit berbeda.
Sungai bukan sekadar air yang mengalir.
Ia adalah sumber kehidupan.
Ia menjadi bagian dari ruang hidup manusia.
Dan ketika sungai dipenuhi sampah, mungkin sebenarnya bukan hanya sungai yang sedang kita kotori.
Kita sedang mengotori ruang hidup kita sendiri.
Khutbah “Berita Tentang Surga di Abad Teknologi” mengingatkan bahwa gambaran sungai yang mengalir dalam surga dapat direnungkan dalam konteks kehidupan manusia di dunia.
Maka, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi:
“Seperti apa surga yang akan kita tempati?”
Tetapi juga:
“Seperti apa bumi yang kita tinggalkan untuk generasi setelah kita?”
Sebab, menjadi manusia yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah.
Ia juga tercermin dari bagaimana kita memperlakukan sesama, bagaimana kita memperlakukan makhluk hidup, dan bagaimana kita menjaga bumi yang telah dititipkan kepada kita.
Jika surga digambarkan dengan sungai yang mengalir, jangan biarkan sungai di bumi berhenti mengalir karena ulah kita.


