
Oleh : Rudi Hartono, S.Sos.I M.Pem.I
Inidetik.com — SIRAMAN ROHANI — Rasulullah Muhammad SAW bukan hanya seorang utusan Allah SWT yang membawa risalah Islam. Beliau juga merupakan teladan terbaik dalam membangun kehidupan yang penuh kepedulian, kasih sayang, kelembutan dan keinginan untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Akhlak mulia Rasulullah SAW tersebut salah satunya digambarkan dengan sangat indah dalam QS. At-Taubah ayat 128.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasih dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat dalam tentang karakter Rasulullah SAW. Setidaknya ada tiga sifat mulia yang patut kita renungkan dan teladani dalam kehidupan sehari-hari.
1. Rasulullah SAW Sangat Peduli terhadap Penderitaan Umat
Allah SWT berfirman:
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
“Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami.”
Rasulullah SAW adalah sosok yang tidak ingin melihat umatnya berada dalam kesulitan.
Penderitaan manusia menjadi perhatian beliau. Kesusahan umat bukan sesuatu yang beliau abaikan. Bahkan keselamatan umat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, menjadi bagian dari perjuangan beliau.
Inilah pelajaran besar yang sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, manusia terkadang lebih sibuk memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
Kita sering bertanya:
“Apa yang akan saya dapatkan?”
Padahal akhlak Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mulai bertanya:
“Apa yang bisa saya berikan?”
Di dalam keluarga, seorang ayah hendaknya peduli terhadap anak-anaknya. Seorang ibu memberikan perhatian kepada keluarganya. Seorang anak memperhatikan orang tuanya. Tetangga membantu tetangganya.
Orang yang memiliki kelebihan membantu mereka yang kekurangan.
Sebab masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang setiap orang hanya mengejar kepentingannya sendiri.
Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang memiliki kepedulian.
Ketika ada tetangga sakit, kita menjenguk.
Ketika ada saudara mengalami kesulitan, kita membantu.
Ketika ada orang yang sedang terjatuh, kita ulurkan tangan untuk membangkitkannya.
Inilah salah satu bentuk sederhana meneladani Rasulullah SAW.
2. Rasulullah SAW Selalu Menginginkan Kebaikan bagi Umatnya
Allah SWT berfirman:
حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ
“Dia sangat menginginkan keselamatan dan kebaikan bagimu.”
Kata harish menggambarkan keinginan yang kuat terhadap sesuatu.
Rasulullah SAW sangat menginginkan umatnya mendapatkan hidayah, kebaikan dan keselamatan.
Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk hidup dengan kebencian.
Bahkan ketika mendapatkan perlakuan buruk, Rasulullah SAW menunjukkan kesabaran dan tetap menginginkan kebaikan.
Di sinilah kita perlu bercermin.
Betapa mudahnya manusia hari ini marah hanya karena perbedaan pendapat.
Betapa cepatnya seseorang memutuskan silaturahmi karena persoalan kecil.
Betapa mudahnya kebencian disebarkan melalui perkataan, tulisan dan media sosial.
Padahal seorang Muslim seharusnya berusaha menghadirkan kebaikan.
Sebelum menulis sesuatu di media sosial, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah tulisan ini membawa manfaat atau justru melukai orang lain?
Sebelum menyampaikan perkataan, pikirkan:
Apakah ucapan ini mendamaikan atau justru memperbesar permusuhan?
Jika kita benar-benar ingin mengikuti Rasulullah SAW, maka kita tidak hanya menginginkan kebaikan untuk diri sendiri.
Kita juga harus belajar menginginkan kebaikan bagi orang lain.
3. Rasulullah SAW Memiliki Kasih Sayang dan Kelembutan
Allah SWT berfirman:
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Terhadap orang-orang mukmin, beliau amat belas kasih dan penyayang.”
Allah SWT menyebut dua sifat yang sangat indah, yaitu ra’uf dan rahim.
Keduanya menggambarkan kasih sayang dan kelembutan Rasulullah SAW kepada orang-orang beriman.
Kasih sayang bukan berarti membiarkan kesalahan.
Kasih sayang berarti mengarahkan dengan cara yang baik.
Ketika seorang anak melakukan kesalahan, jangan hanya dimarahi. Bimbinglah agar ia memahami kesalahannya.
Ketika saudara melakukan kekeliruan, jangan langsung mempermalukannya. Nasihati dengan cara yang baik.
Ketika melihat seseorang sedang mengalami kesulitan, jangan hanya berkata:
“Itu masalah dia.”
Mari belajar berkata:
“Apa yang bisa saya bantu?”
Kalimat sederhana tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dapat menjadi bukti hadirnya kasih sayang dalam kehidupan kita.
Jangan Hanya Mencintai Rasulullah SAW dengan Lisan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan memperbanyak ucapan shalawat.
Shalawat tentu merupakan amalan yang mulia. Namun kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya juga terlihat dalam perilaku.
Jika Rasulullah SAW mengajarkan kasih sayang, maka mari kita menjadi manusia yang penyayang.
Jika Rasulullah SAW mengajarkan kepedulian, maka mari kita peduli kepada sesama.
Jika Rasulullah SAW mengajarkan kelembutan, maka mari kita meninggalkan kebiasaan kasar dalam berbicara dan bertindak.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah SAW adalah teladan yang tidak hanya dikenang, tetapi harus diikuti.
Tiga Akhlak yang Perlu Kita Hidupkan
Dari QS. At-Taubah ayat 128, terdapat tiga pelajaran besar yang dapat kita bawa dalam kehidupan.
Pertama, peduli terhadap penderitaan orang lain.
Jangan menjadi manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Kedua, selalu menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi sesama.
Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.
Ketiga, menghadirkan kasih sayang dan kelembutan.
Jangan mudah menghina, mempermalukan atau menyakiti orang lain.
Jika ketiga sifat tersebut dapat kita hidupkan, insyaAllah keluarga menjadi lebih harmonis, lingkungan menjadi lebih damai dan masyarakat menjadi lebih kuat.
Renungan untuk Kita Semua
Mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah kita menjadi pribadi yang peduli seperti Rasulullah SAW?
Ketika melihat orang lain kesusahan, apakah hati kita tergerak untuk membantu?
Ketika melihat saudara melakukan kesalahan, apakah kita menasihatinya dengan kasih sayang atau justru mempermalukannya?
Ketika berbeda pendapat, apakah kita memilih berdialog dengan baik atau menyebarkan kebencian?
Dan ketika berbicara tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW, apakah kecintaan itu sudah terlihat dalam akhlak kita?
Rasulullah SAW telah memberikan contoh.
Tinggal kita yang memilih: mengikuti keteladanan beliau atau hanya mengaguminya dari kejauhan.
Mari kita jadikan momentum kehidupan ini untuk memperbaiki akhlak.
Lebih peduli kepada keluarga.
Lebih perhatian kepada tetangga.
Lebih lembut kepada sesama.
Lebih berhati-hati menggunakan lisan dan media sosial.
Dan lebih banyak menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Semoga Allah SWT menjadikan kita umat Nabi Muhammad SAW yang benar-benar mencintai beliau, mengikuti sunnah dan akhlaknya, serta mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Writer: RH | Editor: FS


