
Siraman Rohani | inidetik.com
Pematangsiantar — Kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca. Ketika sumber air mulai mengering, tanah retak dan masyarakat harus berjuang mendapatkan air bersih, manusia kembali diingatkan bahwa kehidupan sangat bergantung pada sesuatu yang sering dianggap sederhana: setetes air.
Kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi peringatan sekaligus momentum untuk melakukan introspeksi. Di tengah ikhtiar pemerintah dan masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih, ada satu ikhtiar lain yang tidak kalah penting, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Air adalah nikmat besar yang sering kali baru terasa nilainya ketika keberadaannya mulai sulit ditemukan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaf: 9)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa air bukan hanya kebutuhan biologis manusia, tetapi juga bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Ketika Setetes Air Menjadi Sangat Berharga
Dalam kehidupan sehari-hari, air sering digunakan tanpa banyak berpikir. Membuka keran, mandi, mencuci, memasak hingga menyiram tanaman seolah menjadi rutinitas biasa.
Namun ketika kemarau panjang datang, keadaan dapat berubah.
Sejumlah daerah mulai menghadapi keterbatasan air bersih. Bantuan air harus didistribusikan menggunakan kendaraan tangki, sementara sebagian masyarakat harus menunggu dan mengantre untuk mendapatkan kebutuhan dasar tersebut.
Kondisi seperti ini seharusnya tidak hanya menggerakkan kepedulian sosial, tetapi juga menggugah kesadaran spiritual.
Sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah. Sehebat apa pun teknologi yang dimiliki, manusia tetap tidak mampu menciptakan hujan hanya dengan kekuatannya sendiri.
Manusia dapat membuat waduk, sumur, jaringan perpipaan dan teknologi pengolahan air. Tetapi turunnya hujan tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Kemarau Menjadi Momentum Muhasabah
Kemarau panjang seyogianya menjadi momentum untuk bermuhasabah.
Apakah selama ini manusia sudah menjaga alam dengan baik?
Apakah air digunakan secara bijaksana?
Apakah manusia masih bersyukur ketika air tersedia melimpah?
Atau justru nikmat tersebut dianggap sesuatu yang biasa hingga manusia lupa kepada pemberinya?
Allah SWT berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Air merupakan salah satu nikmat yang sangat besar. Karena itu, ketika terjadi kekeringan, manusia tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga membutuhkan kesadaran untuk kembali menghargai dan menjaga nikmat tersebut.
Salat Istisqa, Ikhtiar Memohon Turunnya Hujan
Dalam tradisi Islam, ketika terjadi kekeringan berkepanjangan, umat Islam mengenal salat Istisqa, yaitu salat yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.
Salat Istisqa bukan berarti manusia berhenti melakukan usaha.
Sebaliknya, doa dan ikhtiar harus berjalan bersama.
Masyarakat tetap harus menghemat air, pemerintah tetap harus mendistribusikan air bersih, sumber mata air harus dijaga, lingkungan harus dilestarikan, dan berbagai teknologi harus dimanfaatkan.
Namun di balik seluruh usaha tersebut, manusia menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah SWT.
Di sejumlah daerah yang menghadapi dampak kemarau, salat Istisqa juga menjadi bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Bersyukur
Ada pelajaran sederhana tetapi mendalam dari kemarau.
Jangan menunggu air sulit diperoleh untuk menyadari betapa berharganya air.
Begitu pula dengan nikmat kesehatan, keluarga, pekerjaan, rezeki dan kesempatan hidup.
Sering kali manusia baru memahami nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang atau bahkan hilang.
Karena itu, kemarau seharusnya menjadi pengingat agar manusia memperbanyak syukur.
Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga menggunakan nikmat sesuai dengan peruntukannya.
Jika diberi air, jangan boros.
Jika diberi lingkungan yang baik, jangan merusaknya.
Jika diberi rezeki, jangan lupa berbagi.
Jika diberi kesempatan hidup, jangan habiskan seluruhnya untuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.
Air Mengajarkan Manusia tentang Kehidupan
Air juga memberikan pelajaran tentang kehidupan.
Ia mengalir dari tempat tinggi menuju tempat rendah. Ia memberi kehidupan tanpa banyak bertanya siapa yang akan menikmatinya.
Dari air, manusia belajar tentang kerendahan hati, kebermanfaatan dan keikhlasan.
Allah SWT berfirman:
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)
Karena itu, menjaga air dan lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis. Bagi seorang Muslim, menjaga alam juga merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
Saatnya Bersama-sama Menjaga Nikmat Allah
Kemarau panjang membutuhkan kepedulian semua pihak.
Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan dasar. Dunia usaha dapat mengambil bagian melalui dukungan sosial dan lingkungan. Masyarakat pun dapat berkontribusi dengan menghemat air dan menjaga sumber-sumber air.
Sementara umat beragama dapat memperkuatnya dengan doa, sedekah, memperbanyak istighfar dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Sebab musibah seharusnya tidak hanya membuat manusia takut, tetapi juga membuat manusia semakin sadar.
Ketika langit belum menurunkan hujan, jangan biarkan hati ikut menjadi kering.
Kering karena lupa bersyukur.
Kering karena kehilangan kepedulian.
Kering karena jauh dari Allah SWT.
Mari menjaga setiap tetes air yang masih diberikan Allah. Sebab boleh jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap sederhana justru merupakan nikmat yang sangat mahal ketika suatu saat kita kehilangannya.
Kemarau mengajarkan kita untuk menunggu hujan. Tetapi lebih dari itu, kemarau mengajarkan kita untuk kembali kepada Sang Pemberi hujan.
Redaksi Inidetik.com


