
Medan | inidetik.com Di balik layar seminar nasional yang berlangsung secara daring pada Jumat pagi (21/11/2025), tersimpan percikan optimisme dari lima akademisi muda Universitas Sumatera Utara (USU). Mereka hadir bukan hanya membawa makalah ilmiah, melainkan membawa kegelisahan kolektif tentang sunyi sosial yang perlahan merenggut relasi manusia, tentang tradisi gotong royong yang kian kehilangan makna, dan tentang bumi yang menua di tengah krisis iklim.
Seminar bertema “Ekoteologi dan Krisis Iklim: Panggilan Generasi Muda untuk Merawat Ciptaan” ini merupakan kolaborasi dua kampus lintas provinsi: Sekolah Tinggi Agama Kristen Remnant Internasional di Minahasa, Sulawesi Utara, dan Sekolah Tinggi Injil Abdi Allah di Mojokerto, Jawa Timur. Diselenggarakan via Zoom, prosiding tersebut menjadi ruang temu gagasan ratusan peserta dari berbagai daerah. Namun bagi tim USU Faozanolo Zebua, Novia Khairin Zahra, Muhammad Alwi Yandi Sitompul, Abdillah Habibi, dan dosen pendamping Rahman Malik forum ini adalah panggung untuk menyuarakan satu isu sederhana tapi mendesak: gotong royong yang direbut oleh modernisasi.
Saat Tradisi Mulai Sepi, Pemuda Memilih Tidak Diam
Makalah mereka berjudul “Melawan Sunyi Sosial: Pemuda dalam Revitalisasi Gotong Royong di Era Pembangunan” lahir dari satu pertanyaan: mengapa sesuatu yang begitu melekat dalam identitas bangsa kini terasa asing?
Dalam diskusi mereka tergambar bagaimana gotong royong yang dulu tumbuh organik dari relasi dan rasa kebersamaan kini terjebak menjadi aktivitas administratif. Modernisasi dan birokratisasi justru mengubahnya menjadi tugas formal tanpa ruh sosial.
Namun ada wajah baru yang muncul. Di media sosial, komunitas lingkungan, gerakan spontan anak-anak muda, gotong royong bertransformasi menjadi aksi kolektif modern: penggalangan donasi, pembersihan sungai, kampanye iklim, penanaman pohon, hingga gerakan edukasi digital. Tanpa seremoni, tanpa instruksi, anak muda bergerak.
Dosen Pendamping: “Ekologi yang sehat lahir dari tangan pemuda”
Di sela penyusunan prosiding, dosen pendamping sekaligus peneliti muda, Rahman Malik, menyampaikan refleksinya.
“Sebagai akademisi muda sekaligus bagian dari pemuda, kami ingin menjadikan prosiding ini sebagai wadah eksistensi. Ekologi yang sehat bisa lahir dari tangan pemuda. Harapan kami, konsep dan aksi kecil ini dapat menjadi kontribusi untuk menghadapi krisis iklim yang semakin mengglobal,” ungkapnya.
Baginya, ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti sebagai wacana, tetapi hadir sebagai gerak yang menyentuh realitas.
Menjelajahi Ruang Hening: Gotong Royong dan Krisis Iklim
Penelitian ini menempatkan gotong royong bukan sebagai tradisi statis, tetapi sebagai energi sosial daya yang mampu diarahkan pada tantangan terbesar manusia hari ini: perubahan iklim.
Tim USU menemukan tiga peran penting pemuda:
1. Penjaga Nilai, Inovator Praktik
Pemuda merawat nilai leluhur sambil memperbaruinya menjadi gerakan digital, komunitas kreatif, dan aksi lingkungan.
2. Penerjemah Zaman
Mereka menjadi jembatan antara bahasa tradisi dan bahasa pembangunan; memahami bagaimana nilai lokal menemukan relevansinya dalam isu global.
3. Penggerak Aksi Ekologis
Gotong royong kini bukan hanya tentang kerja sosial, tetapi strategi bertahan: membersihkan pantai, mengelola sampah, mengampanyekan gaya hidup berkelanjutan.
Gotong royong di tangan pemuda berubah menjadi ekopraksis perilaku kolektif untuk merawat bumi.
Dari Sumatera Utara, Mojokerto, hingga Minahasa: Sebuah Perjalanan Ide
Walau berlangsung daring, prosiding yang menjembatani Minahasa dan Mojokerto ini menyatukan gagasan lintas budaya dan lintas generasi. Layar Zoom menjadi medium pertemuan antara keresahan dan harapan. Meski para pemuda USU hanya tampil lewat kamera laptop dan ponsel, ide mereka tersebar luas ke ruang-ruang diskusi digital.
Makalah tersebut mengingatkan bahwa transformasi sosial sering berawal dari ruang kecil: ruang kelas, kelompok belajar, diskusi mahasiswa, hingga kegelisahan generasi muda.
Akhirnya, Tentang Harapan
Di penghujung presentasi, peserta seminar menyaksikan bukan hanya argumen ilmiah, tetapi sebuah ajakan untuk kembali merasakan denyut kebersamaan.
Tim USU menyimpulkan bahwa modernisasi memang mengubah wajah gotong royong, tetapi tidak mematikan jiwanya. Pemudalah yang menjadi generator makna baru: gotong royong yang ekologis, kreatif, adaptif, dan melampaui batas-batas administratif.
Di tengah dunia yang dipenuhi krisis, harapan sering kali bersembunyi dalam hal-hal yang telah lama kita miliki: rasa peduli bersama. Dalam tangan para pemuda, gotong royong menemukan napas baru untuk merawat manusia, relasi, dan juga bumi.


