
Jakarta I inidetik.com Kelompok kelas menengah di Indonesia kini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat. Gaji bulanan yang diterima banyak dari mereka seolah hanya “numpang lewat” karena langsung habis untuk membayar cicilan, utang, serta kebutuhan pokok yang terus melonjak.
Ekonom senior Institute for Development Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan, kondisi ini merupakan dampak dari kombinasi sejumlah faktor — mulai dari kenaikan inflasi, kebijakan perpajakan, hingga gaya hidup konsumtif masyarakat sendiri.
Inflasi Naik, Gaji Tak Bergerak Tauhid menjelaskan, dari sisi ekonomi makro, inflasi nasional per September 2025 tercatat meningkat di atas 2 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (yoy) pada September mencapai 2,65% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,74.
Sayangnya, kenaikan harga barang dan jasa itu tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan masyarakat.
“Kalau kita lihat, inflasi mulai naik lagi ya, mendekati di atas 2%. Nah, inflasi yang terjadi ini tidak diimbangi dengan kenaikan gaji dan pendapatan mereka. Ini penyebab pertama kenapa kelas menengah semakin tertekan,” ujar Tauhid kepada detikcom, Senin (6/10/2025).
Beban Pajak dan Biaya Hidup Selain inflasi, regulasi perpajakan juga memperparah tekanan terhadap kelompok kelas menengah. Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dinilai membuat harga barang dan jasa semakin mahal, memperberat pengeluaran bulanan.
“PPN naik, kemudian beberapa komponen biaya hidup juga ikut naik, terutama transportasi dan komunikasi. Pajak, transportasi, dan komunikasi ini sudah mulai bergerak naik,” katanya.
“Biaya telekomunikasi dan transportasi digital seperti ojol itu besar sekali bagi kelas menengah,” tambahnya.
Menurut BPS, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia pada 2025 mencapai 46,85 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka kini harus berhemat atau berutang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Gaya Hidup Konsumtif dan Utang yang Menjerat
Tauhid juga menyoroti perilaku konsumtif masyarakat kelas menengah yang kian meningkat di era digital. Kemudahan akses pembiayaan dan belanja daring membuat mereka lebih mudah membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
“Budaya konsumsi di tengah digitalisasi semakin tinggi. Dengan adanya paylater, kredit digital, dan e-commerce, mereka jadi lebih konsumtif dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.
Akibatnya, banyak dari mereka terjebak dalam cicilan yang menumpuk. Gaji bulanan habis untuk membayar tagihan, sementara sisa uang hanya cukup untuk kebutuhan pokok seperti makanan.Sulit Dapat Pekerjaan Layak
Senada dengan Tauhid, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, keterhimpitan kelas menengah juga disebabkan oleh sulitnya mendapatkan pekerjaan yang stabil dan berupah layak.
“Kelas menengah tertekan karena sulit mencari pekerjaan stabil dan upah layak. Pekerjaan memang ada, tapi banyak yang sifatnya informal atau kontrak tidak pasti,” ujarnya.
Bhima juga menyoroti fenomena gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan. Menurutnya, media sosial dan tren fear of missing out (FOMO) sering kali mendorong kelas menengah untuk membeli barang konsumtif menggunakan fasilitas paylater.
“Sebagian terjebak gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan, FOMO lihat iklan di media sosial, lalu beli barang via paylater,” pungkas Bhima.


