
inidetik.com, OPINI – Klaim bahwa perempuan berbicara sekitar 20.000 kata setiap hari, sementara laki-laki hanya sekitar 7.000 kata, masih kerap beredar di media sosial. Angka tersebut bahkan sering digunakan untuk menggambarkan seolah-olah perempuan secara biologis memang lebih banyak berbicara dibandingkan laki-laki.
Namun, benarkah demikian?
Jika ditinjau dari penelitian ilmiah, angka 20.000 berbanding 7.000 kata per hari tidak memiliki dasar penelitian yang kuat. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa jumlah kata yang diucapkan laki-laki dan perempuan tidak sesederhana stereotip tersebut.
Salah satu penelitian yang dilakukan James W. Pennebaker dan timnya, yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2007, menemukan bahwa rata-rata jumlah kata yang digunakan laki-laki dan perempuan relatif berdekatan. Hasil penelitian itu tidak mendukung anggapan bahwa perempuan berbicara beberapa kali lebih banyak daripada laki-laki.
Dengan demikian, angka 20.000 dan 7.000 kata lebih tepat dipahami sebagai mitos populer, bukan ukuran biologis yang dapat dijadikan patokan untuk menilai perempuan dan laki-laki.
Tetapi bagi seorang Muslim, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada berapa banyak kata yang kita ucapkan setiap hari.
Untuk apa lisan itu kita gunakan?
Islam Tidak Mengajarkan Menghitung Kata, tetapi Menjaga Lisan
Islam tidak menetapkan bahwa perempuan memiliki “jatah” 20.000 kata dan laki-laki 7.000 kata setiap hari.
Islam justru mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab atas setiap perkataan.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi.
Karena itu, persoalannya bukan apakah seseorang berbicara 7.000, 20.000, atau bahkan lebih banyak kata dalam sehari.
Yang jauh lebih penting adalah:
Apa yang kita katakan?
Apakah perkataan itu benar?
Apakah bermanfaat?
Apakah mengandung kebaikan?
Apakah menyakiti hati orang lain?
Apakah mengandung ghibah?
Apakah menjadi fitnah?
Apakah menjadi nasihat?
Apakah membawa seseorang semakin dekat kepada Allah?
Atau justru menjadi sesuatu yang kelak kita sesali?
Jangan Mendidik Anak dengan Mitos
Mengajarkan anak-anak agar menjaga lisan merupakan nasihat yang sangat baik. Namun, nasihat tersebut tidak perlu dibangun di atas angka yang tidak terbukti secara ilmiah.
Anak perempuan tidak perlu diyakinkan bahwa dirinya secara biologis “diciptakan untuk berbicara 20.000 kata”.
Begitu pula anak laki-laki tidak perlu merasa bahwa karena “jatahnya” hanya 7.000 kata, maka dirinya otomatis lebih sedikit berbicara.
Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki amanah untuk menjaga lisannya.
Yang menentukan kemuliaan seseorang bukan banyak atau sedikitnya kata yang diucapkan, tetapi kebenaran, manfaat dan akhlak yang terkandung di dalam perkataan tersebut.
Seorang perempuan yang banyak berbicara tentang ilmu, pendidikan, dakwah, keluarga dan kemanusiaan tentu tidak dapat disamakan dengan seseorang yang menggunakan lisannya untuk mencela, menggunjing atau menyebarkan fitnah.
Begitu pula seorang laki-laki yang sedikit berbicara tidak otomatis lebih baik apabila perkataannya mengandung kebohongan, penghinaan dan fitnah.
“Berkata Baik atau Diam”
Rasulullah SAW memberikan pedoman yang sangat sederhana, tetapi membutuhkan kesungguhan untuk mengamalkannya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan tersebut berlaku bagi semua manusia.
Bukan hanya perempuan.
Bukan hanya laki-laki.
Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menjaga lisannya.
Terlebih di era media sosial seperti sekarang.
Sebuah kalimat yang dahulu mungkin hanya didengar oleh beberapa orang, kini dapat dibaca ribuan bahkan jutaan orang. Sebuah komentar yang ditulis dalam hitungan detik dapat disimpan, dibagikan, dikutip dan meninggalkan jejak digital dalam waktu yang sangat panjang.
Karena itu, sebelum berbicara ataupun mengetik sesuatu, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ini benar?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Dan yang paling penting:
Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT?
Jangan Hanya Takut Banyak Bicara, Takutlah Salah Bicara
Diam memang dapat menjadi pilihan ketika perkataan berpotensi menimbulkan mudarat.
Namun, Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk selalu diam.
Ada saatnya kita berbicara.
Ada saatnya kita diam.
Berbicara untuk menyampaikan ilmu adalah kebaikan.
Berbicara untuk membela orang yang dizalimi adalah kebaikan.
Berbicara untuk mendidik anak adalah kebaikan.
Berbicara untuk mendamaikan orang yang berselisih adalah kebaikan.
Berbicara untuk mengingatkan kepada kebaikan adalah kebaikan.
Sebaliknya, perkataan yang mengandung dusta, fitnah, ghibah, penghinaan dan permusuhan dapat menjadi dosa.
Karena itu, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan:
“Berapa banyak saya berbicara hari ini?”
Melainkan:
“Untuk apa saya menggunakan lisan yang Allah SWT titipkan kepada saya?”
Pesan Seorang Ibu kepada Anak Perempuannya
Nasihat seorang ibu kepada anak perempuannya agar berhati-hati dalam berbicara sesungguhnya merupakan pesan yang sangat indah.
Hanya saja, pesan tersebut akan jauh lebih kuat apabila tidak bergantung pada mitos 20.000 kata.
Seorang ibu dapat berkata:
“Nak, jangan takut untuk berbicara. Jadilah perempuan yang berani menyampaikan kebenaran, berani menyampaikan ilmu dan berani membela yang benar. Tetapi jagalah lisanmu. Jangan biarkan kemarahan membuatmu mengucapkan sesuatu yang kelak engkau sesali.”
Seorang ibu tidak sedang mengajarkan anak perempuannya untuk menjadi pribadi yang pendiam.
Ia sedang mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakan lisan.
Perempuan boleh banyak bicara.
Laki-laki pun boleh banyak bicara.
Tetapi keduanya harus memahami bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi.
Allah SWT mengingatkan bahwa tidak ada ucapan yang luput dari pencatatan.
Maka, sebelum lisan bergerak, hendaknya hati berpikir.
Sebelum jari mengetik, hendaknya akal mempertimbangkan.
Sebelum sebuah kalimat dibagikan kepada orang lain, hendaknya iman bertanya:
“Apakah kalimat ini benar-benar perlu?”
Sebab bisa jadi sebuah kalimat sederhana menjadi jalan datangnya pahala.
Namun sebaliknya, sebuah kalimat yang lahir dari kemarahan dapat menjadi sumber penyesalan.
Bukan 20.000 Kata yang Harus Ditakutkan
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadikan mitos 20.000 kata sebagai alasan untuk menilai perempuan lebih cerewet atau laki-laki lebih pendiam.
Bukan jumlah kata yang menjadi ukuran utama.
Yang harus kita khawatirkan adalah kualitas perkataan dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
Satu kalimat dapat menyelamatkan hati seseorang.
Satu nasihat dapat mengubah kehidupan seseorang.
Satu ucapan maaf dapat menyatukan kembali hubungan yang retak.
Tetapi satu fitnah juga dapat menghancurkan kehormatan seseorang.
Satu hinaan dapat meninggalkan luka bertahun-tahun.
Dan satu kebohongan dapat menyeret seseorang kepada dosa yang lebih besar.
Karena itu, pesan yang seharusnya kita tanamkan kepada anak-anak baik perempuan maupun laki-laki bukanlah:
“Perempuan harus mengurangi jumlah kata.”
Melainkan:
“Ucapkanlah yang baik, benar dan bermanfaat. Jika tidak, maka diamlah.”
Sebab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah apakah kita seorang perempuan yang berbicara 20.000 kata atau seorang laki-laki yang berbicara 7.000 kata.
Yang akan menjadi pertanyaan adalah: untuk apa lisan itu kita gunakan?
Bukan 20.000 kata yang harus kita takutkan, tetapi satu kata yang salah, satu fitnah yang tersebar, satu hati yang terluka, dan satu perkataan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
REDAKSI INIDETIK.COM


