Inidetik.com -Pekalongan, Jawa-Tengah
OPINI & INVESTIGASI
Menagih Komitmen Higienitas MBG: Dari Ambang Keracunan Massal hingga Anomali Limbah di Dapur Pekalongan
Gelombang kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukannya mereda, melainkan kian membesar dan menghiasi ruang publik. Peristiwa di Jawa Timur yang menimpa ratusan santri, disusul insiden serupa pada pelajar di berbagai daerah, menjadi signal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Ketika keselamatan konsumsi publik dipertaruhkan, spekulasi pun bermunculan—mulai dari kelalaian rantai pasok, manajemen penyimpanan bahan baku yang buruk, hingga ketiadaan kontrol kualitas pada fasilitas penyedia.
Namun, persoalan higienitas tak berhenti pada rantai olah makanan semata. Sanitasi lingkungan di area operasional justru menyimpan ancaman laten yang sama berbahayanya.
Anomali sanitasi ini tepercik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Amana, Dukuh Tumiyang, Desa Domiyang, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Tabung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi tersebut dilaporkan meluap dan menyemburkan busa dalam volume masif. Busa yang tercemar kotoran tersebut terbawa angin hingga berhamburan di sekitar area kantor dan dapur produksi, diiringi bau menyengat yang mengganggu. 
Fasilitas yang diamanatkan untuk menyediakan nutrisi sehat justru menghadirkan potensi bahaya lingkungan di tapak operasionalnya sendiri.
POTENSI BAHAYA BUSA IPAL |
+———————————————————————–+
| 1. Vektor Patogen & Bakteri |
| Busa cair membawa bakteri aerob/anaerob, coliform, serta mikroba |
| pembusuk dari limbah dapur yang berisiko mencemari area masak. |
| |
| 2. Kontaminasi Surfaktan & Kimia |
| Kandungan deterjen dan bahan pembersih pekat dapat memicu iritasi |
| saluran pernapasan serta kulit jika terpapar langsung. |
| |
| 3. Pencemaran Udara (Bioaerosol) |
| Gumpalan busa yang beterbangan membawa mikropartikel berbahaya |
| ke udara bebas, meningkatkan risiko kontaminasi silang (cross- |
| contamination) pada makanan yang sedang diproses. |
+————————————
Meluapnya busa IPAL secara teknis umumnya dipicu oleh tiga faktor utama: akumulasi Fats, Oils, and Grease (FOG) atau lemak mentega/minyak goreng berlebih dari kegiatan dapur, residu deterjen kimia yang tidak terurai, serta matinya konsorsium bakteri pengurai akibat ketidakseimbangan pH.
Ketika IPAL gagal berfungsi, fungsi utamanya sebagai penapis polutan runtuh. Kehadiran gumpalan busa liar di dekat ruang olah makanan bukan sekadar masalah estetika atau ketidaknyamanan aroma, melainkan bentuk ancaman nyata terhadap keamanan pangan (food safety).
Program yang digadang-gadang meningkatkan taraf kesehatan anak bangsa ini tidak boleh direduksi kualitasnya oleh kecerobohan tata kelola sanitasi. Pengawasan ketat serta audit teknis berkala dari dinas lingkungan hidup dan dinas kesehatan setempat harus segera dijatuhkan. Pengelola SPPG dituntut bergerak cepat membenahi sistem pengolahan limbah ini sebelum kelalaian teknis di hilir menjelma menjadi bencana kesehatan massal di hulu.
KangKamplenk


