
Oleh: Faisal | Akademisi STAI Panca Budi
Di sebuah kamar kos, seorang mahasiswa menghitung sisa uangnya. Ada kebutuhan makan, biaya mencetak tugas, dan ongkos menuju kampus. Pada saat yang sama, pesan dari seorang teman masuk ke ponselnya: “Boleh minta tolong jelaskan materi tadi? Aku belum paham.”
Ia mungkin belum mampu membantu dengan uang. Namun, malam itu ia meluangkan waktu untuk menemani temannya belajar.
Pemandangan sederhana seperti ini mengajak kita bertanya: apakah kebaikan harus selalu menunggu seseorang memiliki banyak harta, kedudukan tinggi, atau kehidupan yang sudah mapan?
Dalam Islam, pintu amal jauh lebih luas daripada itu. Ada kebaikan yang lahir dari uang, tetapi ada pula yang tumbuh dari perhatian, pengetahuan, tenaga, dan kesediaan mendengarkan.
Kadang-kadang, sesuatu yang terasa kecil bagi kita justru menjadi pertolongan besar bagi orang lain.
Di tengah perlombaan, jangan kehilangan kepedulian
Kehidupan mahasiswa dipenuhi berbagai tuntutan. Nilai harus dijaga, tugas harus selesai, pengalaman organisasi perlu dibangun, dan masa depan mulai dipikirkan. Bagi sebagian mahasiswa, semua itu berjalan beriringan dengan pekerjaan tambahan dan tanggung jawab membantu keluarga.
Di layar ponsel, pencapaian orang lain terus terlihat. Ada yang memperoleh beasiswa, diterima magang, memenangkan perlombaan, atau melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Kita ikut senang, tetapi terkadang muncul kegelisahan: “Mengapa aku belum sampai di sana?”
Mengejar prestasi tentu baik. Namun, ketika seluruh perhatian terserap untuk membuktikan diri, kita bisa lupa melihat orang yang sedang kesulitan di dekat kita.
Teman yang mendadak jarang hadir mungkin sedang menghadapi persoalan keluarga. Rekan satu kelompok yang tampak diam mungkin takut pendapatnya ditertawakan. Orang tua yang menelepon sebentar mungkin hanya ingin mendengar suara anaknya.
Kepedulian bermula ketika kita bersedia berhenti sejenak dan bertanya dengan tulus: “Apa yang bisa saya bantu?”
Amal tidak menunggu kita menjadi kaya
Dalam Al-Qur’an, Surah Az-Zalzalah ayat 7 menegaskan bahwa kebaikan sekecil apa pun akan diperlihatkan balasannya. Pesan ini memberi harapan: tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk diperhitungkan oleh Allah.
Mahasiswa dapat mengamalkannya dengan membantu teman memahami pelajaran tanpa merendahkan, membagikan informasi beasiswa yang berguna, atau mengembalikan barang pinjaman tepat waktu.
Di rumah, amal dapat hadir melalui kesediaan membantu pekerjaan orang tua. Di tempat kerja, melalui kejujuran dan penghormatan kepada rekan. Di lingkungan sekitar, melalui perhatian kepada tetangga yang sakit atau orang yang membutuhkan pertolongan.
Kebaikan juga hidup di ruang digital. Meminta izin sebelum menyebarkan foto seseorang, menjaga rahasia teman, dan memeriksa informasi sebelum meneruskannya merupakan bentuk tanggung jawab terhadap sesama.
Kita tidak perlu menunggu wisuda untuk bermanfaat. Tidak perlu menunggu penghasilan besar untuk mulai peduli. Setiap tahap kehidupan menyediakan kesempatan untuk berbuat baik.
Ilmu menjadi bermakna ketika membawa manfaat
Bagi dunia pendidikan, pesan ini memiliki arti yang mendalam. Pengetahuan memberi kita kemampuan memahami persoalan, sedangkan kepedulian menggerakkan kita untuk menggunakan kemampuan tersebut.
Mahasiswa yang memahami teknologi dapat membantu pelaku usaha kecil mengenalkan produknya. Mereka yang belajar pendidikan dapat mendampingi anak-anak membaca. Mereka yang mendalami ilmu sosial dapat membantu masyarakat menyampaikan kebutuhan dan memahami persoalan lingkungannya.
Kontribusi semacam itu tidak selalu mendapat sorotan. Namun, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh orang yang terbantu.
Di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia, mahasiswa memiliki latar belakang, bahasa, dan keyakinan yang beragam. Meski demikian, pengalaman membutuhkan pertolongan mempertemukan kita sebagai manusia.
Bagi seorang Muslim, berbuat baik merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Dalam kehidupan bersama, kebaikan itu dapat menjangkau siapa saja: teman berbeda agama, mahasiswa dari negara lain, maupun orang yang belum pernah kita kenal.
Menolong dengan tulus, menjaga martabat sesama
Ada hal yang perlu kita jaga ketika membantu: perasaan dan martabat orang yang menerima pertolongan.
Seseorang yang sedang kesulitan tidak selalu ingin kisahnya diumumkan. Teman yang membutuhkan bantuan biaya mungkin merasa malu apabila keadaannya menjadi bahan percakapan. Karena itu, kepedulian perlu disertai kepekaan.
Tidak semua kebaikan harus difoto. Tidak setiap pertolongan perlu diceritakan. Ada amal yang cukup diketahui oleh orang yang terbantu dan Allah yang mengetahui niat kita.
Ketulusan juga perlu berjalan bersama kemampuan. Kita boleh membantu sesuai tenaga, waktu, dan keadaan yang dimiliki. Menjaga kesehatan dan memenuhi tanggung jawab pribadi memungkinkan kita terus berbuat baik secara berkelanjutan.
Mulai dari orang yang paling dekat
Malam ini, besok pagi atau kapanpun mungkin ada satu kebaikan yang dapat kita lakukan.
Menghubungi orang tua. Mengucapkan terima kasih kepada petugas kebersihan. Mendengarkan teman tanpa terburu-buru menghakimi. Meminta maaf atas ucapan yang melukai. Atau membantu seseorang memahami pelajaran yang selama ini membuatnya merasa tertinggal.
Kita mungkin tidak langsung melihat hasilnya. Namun, pertolongan sederhana dapat membuat seseorang merasa diperhatikan, memiliki harapan, dan berani melanjutkan langkah.
Kelak, ijazah akan mencatat bahwa kita pernah menyelesaikan pendidikan. Semoga orang-orang yang bertemu dengan kita juga mengingat bahwa kehadiran kita membawa manfaat.
Sebab, di tengah kesibukan mengejar masa depan, selalu ada kesempatan menabung amal: satu perhatian, satu pertolongan, dan satu kebaikan pada satu waktu.
SIRAMAN ROHANI


