Literasi Digital dan Sekolah Ramah Anak: Sinergi Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat dalam Menyiapkan Generasi Indonesia Emas

MEDAN, inidetik.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memperkuat upaya peningkatan literasi digital masyarakat melalui program Fasilitasi Pandu Literasi Digital Masyarakat Umum dan Anak dengan tema Mengenal PP TUNAS untuk Orang Tua, yang digelar secara daring, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja literasi digital yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Literasi Digital Badan Pengembangan SDM Komdigi. Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital, Rizki Amelia, menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan ruang digital yang aman dan produktif bagi anak-anak Indonesia.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan anak di era digital sekaligus mendukung implementasi kebijakan PP TUNAS.

Acara yang dipandu oleh Rangga Adi Negara selaku moderator tersebut menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (UNIMED), Dr. Bakhrul Khair Amal, M.Si., sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya bertajuk Membangun Sekolah Ramah Anak: Membangun Kolaborasi Nyata Antara Masyarakat Umum dan Dunia Pendidikan demi Masa Depan Digital Anak yang Aman, Kreatif, dan Menyenangkan, Bakhrul menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terletak pada penguasaan teknologi, tetapi juga bagaimana membangun karakter dan budaya digital yang sehat bagi generasi muda.

Menurut Dr. Bakhrul, tingginya angka penggunaan internet di kalangan anak-anak Indonesia harus diimbangi dengan penguatan literasi digital, pengawasan orang tua, dan kebijakan sekolah yang berpihak pada perlindungan anak. Ia mengingatkan bahwa tanpa pendampingan yang memadai, anak-anak rentan terhadap berbagai ancaman dunia maya seperti perundungan siber, eksploitasi digital, hingga penyebaran informasi yang menyesatkan.

“Anak-anak tidak hanya membutuhkan keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga karakter yang kuat untuk memahami nilai-nilai kemanusiaan di balik teknologi tersebut. Pendidikan harus mampu membentuk generasi yang cerdas secara digital sekaligus bijak dalam memanfaatkannya,” ujar Dr. Bakhrul.

Ia menjelaskan bahwa konsep Sekolah Ramah Anak harus diwujudkan melalui lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, bebas kekerasan, serta mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Sekolah juga perlu memperkuat tata krama digital, perlindungan data pribadi siswa, dan mekanisme pencegahan perundungan baik secara langsung maupun melalui media digital.

Dr. Bakhrul juga mengapresiasi hadirnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tunas Prestasi dan Potensi (PP TUNAS) yang menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi Indonesia yang unggul, berkarakter, dan kompetitif di tingkat global. Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan target Indonesia Layak Anak 2030 yang menempatkan anak sebagai subjek utama pembangunan nasional.

Menutup pemaparannya, Dr. Bakhrul mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan yang ramah anak dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Kita membutuhkan kolaborasi nyata agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang aman, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan digital. Literasi digital bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Komdigi berharap semakin banyak orang tua, pendidik, dan masyarakat yang memahami pentingnya perlindungan anak di ruang digital serta berperan aktif dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang aman dan berkualitas bagi generasi penerus bangsa.

BERITA MEDAN

Writer:BKA | Editor: FS