Silaturahmi STM Keluarga Besar Antropologi Unimed, Merawat Kebersamaan dan Kekompakan Tim

Medan, inidetik.com — Di tengah padatnya aktivitas akademik dan tuntutan profesionalisme dunia pendidikan tinggi, Keluarga Besar Pendidikan Antropologi Universitas Negeri Medan (Unimed) memilih untuk berhenti sejenak, merawat relasi, dan meneguhkan kembali nilai kebersamaan melalui kegiatan Silaturahmi STM.

Kegiatan ini dihadiri jajaran pimpinan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unimed antara lain Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unimed Dr. Ratih Baiduri, Ketua Prodi Pendidikan Antropologi Sulian Ekomila, MSP, Ketua Prodi Pascasarjana Antropologi Dr. Supsiloani, serta para dosen dan keluarga besar Antropologi Unimed.

Suasana hangat dan penuh keakraban terasa kuat sejak awal acara, mencerminkan ikatan kekeluargaan yang terus dijaga di lingkungan akademik tersebut.

Silaturahmi ini bukan sekadar ajang pertemuan, tetapi menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya relasi kemanusiaan di balik rutinitas akademik. Di tengah target kinerja, penelitian, dan pengabdian masyarakat, kebersamaan dinilai sebagai fondasi penting yang kerap terlupakan.

Mewakili keluarga besar Antropologi, Dr. Bakhrul Khair Amal, M.Si menegaskan bahwa silaturahmi merupakan kebutuhan emosional yang tak terpisahkan dari kehidupan kampus.

“Kampus bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat tumbuh bersama. Silaturahmi ini menjadi cara kita menjaga kebersamaan agar tetap hidup di tengah kesibukan,” ujarnya kepada media, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, hubungan yang terawat dengan baik akan berdampak langsung pada kualitas kerja akademik, kolaborasi antar-dosen, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.

Senada dengan itu, Dr. Puspita Wati menyampaikan bahwa kebersamaan seperti ini mampu menjadi energi baru bagi para pendidik.

“Ada kelelahan yang terobati ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Dari sinilah semangat mengajar dan meneliti kembali tumbuh,” tuturnya.

Melalui Silaturahmi STM ini, Keluarga Besar Pendidikan Antropologi Unimed menegaskan bahwa kampus yang sehat bukan hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara intelektualitas dan nilai-nilai kemanusiaan.

BERITA MEDAN

Writer: RS | Editor: FS