Kehadiran Ayah Kurangi Risiko Kekerasan pada Anak

JAKARTA I inidetik.com Kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembang anak terbukti mampu mengurangi risiko anak menjadi korban kekerasan. Kondisi fatherless atau ketidakhadiran figur ayah bukan hanya berdampak pada sisi emosional dan perilaku anak, tetapi juga meningkatkan potensi anak mengalami tindak kekerasan.

Analisis Tim Jurnalisme Data Kompas menggunakan persamaan regresi linier menunjukkan adanya korelasi kuat antara jumlah anak berpotensi fatherless dan jumlah korban kekerasan anak di 38 provinsi di Indonesia. Nilai korelasi yang ditemukan mencapai 0,89 poin, menandakan hubungan yang erat antara kedua variabel tersebut.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan, Kompas memperkirakan bahwa kehadiran sosok ayah pada 100.000 anak di setiap provinsi dapat menurunkan angka kekerasan anak. Diperkirakan, 81 anak berpotensi terhindar dari tindak kekerasan jika mereka hidup bersama dan mendapatkan dukungan dari figur ayah.

Fenomena fatherless di Indonesia sendiri banyak disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari perceraian, pernikahan dini yang rapuh, hingga keterlibatan ayah yang minim dalam pengasuhan. Kondisi ini tidak jarang memicu gangguan perkembangan psikologis anak, termasuk gangguan emosional, perilaku agresif, hingga kesulitan membangun relasi sosial yang sehat.

Sejumlah penelitian sebelumnya juga memperkuat temuan tersebut. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah lebih rentan mengalami depresi, kecemasan, hingga penyimpangan perilaku. Sementara itu, kehadiran ayah bukan hanya memberi perlindungan secara fisik, tetapi juga membentuk rasa aman, percaya diri, dan stabilitas emosional bagi anak.

Pakar psikologi perkembangan anak menilai bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan perlu didorong lebih serius. Tidak hanya hadir secara finansial, tetapi juga secara emosional dan sosial. Peran ayah yang aktif diyakini dapat memperkecil risiko anak menjadi korban kekerasan, baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah.

Dengan demikian, memperkuat peran ayah dalam keluarga menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak, sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat secara mental maupun sosial.