BERITA UNGGULAN Pascabanjir Besar Sumut, FISIP USU Bawa “Ekopedagogi” ke SD Negeri Lorong Siku...

Pascabanjir Besar Sumut, FISIP USU Bawa “Ekopedagogi” ke SD Negeri Lorong Siku Langkat

LANGKAT, inidetik.com — Banjir besar yang melanda wilayah Sumatera Utara pada November 2025 meninggalkan luka yang tak mudah pulih bagi warga Desa Paya Bengkuang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Selain merusak ruang kelas, buku pelajaran, dan dokumen sekolah, bencana itu juga menyisakan trauma pada anak-anak SD Negeri No. 057225 Lorong Siku.

Menjawab persoalan itu, sebuah tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) berskema Mitigasi Bencana hadir membawa pendekatan pembelajaran berbasis ekopedagogi bagi siswa kelas IV–VI di sekolah tersebut. Program ini bukan sekadar penyuluhan satu arah. Tim pelaksana merancang rangkaian kegiatan yang memadukan permainan, pendampingan guru, hingga penyusunan modul pembelajaran khusus dengan satu tujuan: memastikan anak-anak tidak hanya tahu, tetapi benar-benar siap menghadapi bencana di masa depan.

Bermain Sambil Bercerita, Menggali Trauma Tanpa Membebani

Pada kunjungan pertama, tim pelaksana yang beranggotakan mahasiswa menggelar sesi permainan (games) bersama siswa kelas IV dan VI. Bukan tanpa alasan, permainan dipilih sebagai medium karena dinilai mampu membuka ruang bagi anak-anak untuk bercerita tentang pengalaman mereka saat banjir, tanpa menimbulkan beban emosional tambahan.

Dari sesi yang penuh tawa namun sarat makna itu, tim menemukan lima fakta mengejutkan tentang cara pandang anak terhadap bencana: banjir kerap dianggap sekadar wahana bermain, sebagian siswa masih menyimpan trauma dan kecemasan, muncul kebiasaan buruk yang dianggap wajar karena mencontoh orang dewasa di sekitar mereka, ada jurang antara pengetahuan yang diajarkan di kelas dengan praktik sehari-hari, hingga ketidaktahuan akan bahaya tersembunyi di balik air banjir mulai dari risiko penyakit sampai arus yang tak terlihat.

“Anak-anak ini butuh lebih dari sekadar teori. Mereka perlu memahami bahwa banjir bukan hanya soal air yang menggenang, tapi menyimpan risiko yang seringkali tidak mereka sadari,” ujar [Dr. Ria Manurung, M.Si], selaku Ketua Tim PkM.

Temuan-temuan tersebut kemudian menjadi bekal penting sekaligus tantangan tersendiri bagi para guru dalam mengimplementasikan ekopedagogi di sekolah, bagaimana mengoreksi persepsi keliru, menangani sisi psikologis siswa, dan menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Dari Cerita Guru, Lahir Modul Pembelajaran Adaptif
Tak hanya berdialog dengan siswa, tim pelaksana juga mendalami situasi dari sudut pandang guru. Melalui sesi khusus, guru-guru menceritakan kronologi banjir yang melanda sekolah, kerugian yang dialami, hingga bantuan pascabencana yang telah maupun akan diterima dari pemerintah setempat.
Bekal cerita dari siswa dan guru inilah yang menjadi dasar penyusunan Modul Pembelajaran Ekopedagogi Adaptif bagi siswa kelas IV–VI. Modul ini tidak berhenti pada teori: di dalamnya termuat strategi pendekatan kritis, integrasi ke dalam kegiatan kokurikuler sekolah, hingga media pembelajaran berupa buku saku bertajuk “Pahlawan Cilik Desa Paya Bengkuang”.
Siswa juga diajak melakukan observasi lapangan, membuat sketsa jalur evakuasi, hingga memberi rekomendasi penguatan peran sekolah dalam menghadapi bencana.
Belajar Sambil Bermain, Sekolah Tengah Direnovasi
Pada kunjungan kedua, tim kembali hadir dengan konsep fun education yaitu belajar sambil bermain untuk memperdalam literasi ekopedagogi dan mitigasi bencana. Siswa diajak menonton video tentang penyebab dan dampak bencana seperti banjir dan longsor, dilanjutkan sesi ice breaking bertema lingkungan, permainan interaktif, hingga kuis untuk menguji pemahaman mereka.
Untuk menjaga semangat siswa, tim mahasiswa memberi penghargaan kecil kepada siswa yang berani dan percaya diri menjawab kuis. Namun begitu, agar tak ada siswa yang merasa tersisih, seluruh peserta yang aktif berpartisipasi turut mendapat apresiasi.

Guru Sambut Baik, Namun Akui Ada Tantangan di Lapangan
Kunjungan kedua ini juga diisi dengan sosialisasi kepada tujuh guru SD Negeri Lorong Siku. Para guru menyambut positif gagasan mengintegrasikan materi mitigasi bencana ke dalam kegiatan kokurikuler sekolah serta mata pelajaran yang menekankan aktivitas fisik dan praktik langsung, karena dinilai lebih membumi dalam membentuk kebiasaan peduli lingkungan pada siswa dibanding sekadar teori di kelas.
Namun, para guru juga jujur mengungkap tantangan di lapangan. Kesadaran lingkungan warga sekitar sekolah dinilai masih rendah, salah satunya terlihat dari kebiasaan membakar sampah akibat belum tersedianya fasilitas pembuangan yang memadai. Warga bahkan disebut masih menunggu langkah konkret dari pemerintah, baik berupa sosialisasi maupun penyediaan pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
Dari diskusi tersebut, muncul solusi yang disepakati bersama: pemberian teori ekopedagogi diintegrasikan ke salah satu mata pelajaran yang menekankan pembentukan sikap dan nilai kewarganegaraan, sementara praktiknya diterapkan lewat mata pelajaran yang berbasis aktivitas fisik. Kombinasi ini dipandang sebagai jalan tengah paling realistis dimana satu mata pelajaran menjadi ruang membangun kesadaran kritis dan nilai tanggung jawab siswa terhadap lingkungan, sementara mata pelajaran lainnya menjadi ruang praktik langsung di lapangan.
“Kami ingin anak-anak di sini tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya tahu cara menyelamatkan diri saat bencana datang, tapi juga paham bagaimana menjaga lingkungan agar risiko itu bisa diperkecil sejak awal,” tutup Dr. Ria Manurung, M.Si.
BERITA SUMATERA UTARA

Writer: DV | Editor: FS