Warga Nagori Bahal Batu Keluhkan Dugaan Pencemaran Udara dari Aktivitas Pabrik Kelapa Sawit

SIMALUNGUN, inidetik.com – Warga Nagori Bahal Batu, Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengeluhkan kondisi udara di sekitar permukiman yang diduga terdampak aktivitas pabrik kelapa sawit yang beroperasi di wilayah tersebut.

Warga menyebut keluhan telah berlangsung selama beberapa bulan. Asap dan debu yang diduga berasal dari aktivitas pabrik disebut kerap terbawa angin hingga ke permukiman warga.

Dari dokumentasi yang disampaikan masyarakat, sejumlah rumah warga di sekitar lokasi pabrik terlihat mengalami penumpukan material berwarna hitam pada lantai, dinding, serta perabotan rumah tangga.

“Setiap pagi kami harus membersihkan rumah karena debu hitam. Lantai dan meja cepat kotor. Kami juga khawatir dengan kondisi anak-anak,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan kepada media, Selasa (11/8/2026).

Rumah warga yang terdampak aktifitas pabrik

Warga menduga material hitam tersebut berkaitan dengan aktivitas pembakaran bahan bakar atau limbah padat kelapa sawit, seperti cangkang dan serat. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan teknis dan pengujian lingkungan oleh instansi berwenang.

Selain persoalan udara, masyarakat juga mempertanyakan kondisi sistem pengelolaan limbah cair atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik. Warga mengkhawatirkan adanya potensi pencemaran air tanah apabila sistem pengelolaan limbah tidak memenuhi ketentuan lingkungan.

Masyarakat meminta Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui instansi terkait segera melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi. Pemeriksaan diharapkan mencakup kualitas udara, sumber emisi, sistem pengendalian pencemaran, pengelolaan limbah cair, serta kepatuhan perusahaan terhadap dokumen dan perizinan lingkungan.

Warga juga berharap hasil pemeriksaan tersebut disampaikan secara terbuka kepada masyarakat sehingga dapat diketahui apakah keluhan yang mereka sampaikan berkaitan dengan aktivitas pabrik atau disebabkan faktor lainnya.

“Yang kami minta bukan sekadar janji, tetapi pemeriksaan dan solusi yang jelas. Kalau memang ada pelanggaran, kami berharap pemerintah mengambil tindakan sesuai aturan,” kata warga lainnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pengelola pabrik terkait tudingan pencemaran udara maupun dugaan persoalan pengelolaan limbah tersebut.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai PT Dolok Pasaribu, sementara berdasarkan informasi yang diterima redaksi terdapat nama badan usaha PT Barita Dolok Saribu.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar persoalan lingkungan tersebut tidak berlarut-larut dan kondisi udara serta lingkungan permukiman di Nagori Bahal Batu tetap aman bagi masyarakat.

BERITA SIMALUNGUN

Writer: SL | Editor: FS