BERITA UNGGULAN Literasi Ekologi Pasca Bencana, FISIP USU Edukasi Siswa SDN 050770 Paya Bengkuang...

Literasi Ekologi Pasca Bencana, FISIP USU Edukasi Siswa SDN 050770 Paya Bengkuang Hadapi Risiko Banjir

LANGKAT, inidetik.com – Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Literasi Ekologi Pasca Bencana” di SD Negeri 050770 Paya Bengkuang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat literasi lingkungan dan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menghadapi risiko bencana. Banjir menjadi salah satu fokus utama kegiatan mengingat wilayah Kabupaten Langkat mengalami bencana banjir pada November 2025 yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan.

Tim pengabdian FISIP USU dipimpin oleh Rahman Malik, S.Sos., M.Sos., bersama Rahma Hayati Harahap, S.Sos., M.Sos. dan Prof. Rizabuana, M.Phil., Ph.D. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa FISIP USU sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat.

Program dirancang dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan dosen, mahasiswa, guru, dan siswa. Pendekatan tersebut bertujuan agar pendidikan kebencanaan tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi berkembang menjadi pengalaman belajar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan Kapasitas Guru

Tahap awal kegiatan dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026 melalui sosialisasi dan diskusi bersama guru serta tenaga pendidik SD Negeri 050770 Paya Bengkuang.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian memperkenalkan konsep Literasi Ekologi Pasca Bencana sekaligus menggali pengalaman sekolah dalam menghadapi banjir. Guru diajak mendiskusikan berbagai persoalan lingkungan dan kebencanaan yang dihadapi sekolah serta bagaimana pendidikan pengurangan risiko bencana dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran.

Pelibatan guru menjadi bagian penting dalam program karena guru memiliki posisi strategis dalam membangun pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa. Dengan demikian, edukasi kebencanaan diharapkan dapat terus berlangsung meskipun kegiatan pengabdian telah selesai.

Pendekatan partisipatif juga memungkinkan tim pengabdian memahami kondisi sosial dan lingkungan setempat secara lebih kontekstual. Pengetahuan dan pengalaman guru mengenai kondisi sekolah dan lingkungan sekitar menjadi salah satu dasar dalam menyusun strategi edukasi yang relevan bagi siswa.

Siswa Belajar dari Pengalaman Banjir

Setelah kegiatan bersama guru, program dilanjutkan dengan edukasi kepada siswa mengenai bencana banjir, faktor risiko, pentingnya menjaga lingkungan, serta langkah sederhana yang dapat dilakukan anak-anak untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Materi disampaikan dengan metode yang disesuaikan dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Konsep kebencanaan yang kompleks diperkenalkan melalui bahasa sederhana, contoh kehidupan sehari-hari, diskusi, permainan, serta berbagi pengalaman.

Siswa diberikan ruang untuk menceritakan pengalaman mereka ketika menghadapi banjir maupun kondisi lingkungan yang mereka lihat di sekitar tempat tinggal. Pengalaman tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep mitigasi, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Metode pembelajaran berbasis pengalaman ini menjadikan siswa bukan sekadar penerima informasi, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lokal mengenai lingkungan tempat mereka tinggal.

Untuk meningkatkan keterlibatan siswa, tim pengabdian juga melaksanakan permainan edukatif berupa sesi tanya jawab. Pertanyaan berkaitan dengan lingkungan, banjir, kesiapsiagaan, serta tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi evaluasi sederhana terhadap pemahaman siswa setelah memperoleh materi. Suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan diharapkan membuat materi kebencanaan lebih mudah dipahami, diingat, dan diterapkan.

“Aku Siaga Banjir” sebagai Media Pembelajaran

Sebagai bagian dari penguatan pembelajaran, tim pengabdian membagikan buku saku mitigasi bencana berjudul “Aku Siaga Banjir” kepada siswa.

Buku saku tersebut dirancang sebagai media pembelajaran yang dapat dibaca kembali oleh siswa setelah kegiatan berlangsung. Penyajian informasi melalui gambar dan bahasa sederhana diharapkan membantu siswa memahami langkah-langkah yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi banjir.

Penggunaan media visual menjadi salah satu strategi agar pendidikan kebencanaan dapat disampaikan secara lebih menarik dan sesuai dengan usia peserta didik sekolah dasar.

Little Ranger: Mengubah Pengetahuan Menjadi Tindakan

Program Literasi Ekologi Pasca Bencana kemudian diperkuat melalui kegiatan “Little Ranger”, yaitu aktivitas edukatif yang mengajak siswa menerapkan kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan nyata.

Dalam kegiatan tersebut, siswa terlibat dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah. Mereka diajak menyapu, merapikan ruang belajar, mengumpulkan sampah, serta membersihkan halaman dan lingkungan sekitar sekolah.

Aktivitas sederhana tersebut memiliki keterkaitan dengan upaya pengurangan risiko banjir. Pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan, termasuk menjaga saluran air agar tidak tersumbat, merupakan bagian dari perilaku yang dapat membantu mengurangi faktor yang memperparah genangan.

Melalui Little Ranger, siswa diajak memahami bahwa literasi ekologi bukan hanya mengenai pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi kebiasaan dan tindakan.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan sekolah, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan merupakan bentuk pendidikan karakter ekologis yang dapat dimulai sejak jenjang sekolah dasar.

Pendidikan Kebencanaan sebagai Investasi Jangka Panjang

Program Literasi Ekologi Pasca Bencana menggabungkan pembelajaran partisipatif, pembelajaran berbasis pengalaman, dan pembelajaran berbasis proyek. Model tersebut menempatkan pengetahuan, pengalaman, dan praktik sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membangun kesiapsiagaan bencana.

Program juga tidak hanya berorientasi pada kegiatan sesaat. Penguatan kapasitas guru dan penyediaan media pembelajaran diharapkan dapat membantu sekolah mengembangkan pendidikan lingkungan dan kebencanaan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam mendukung proses pemulihan masyarakat pascabencana. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali infrastruktur yang terdampak, tetapi juga membutuhkan penguatan pengetahuan, kapasitas adaptasi, kesiapsiagaan, dan kesadaran ekologis masyarakat.

Sekolah menjadi salah satu ruang strategis untuk membangun ketangguhan tersebut karena pendidikan yang diberikan kepada anak-anak dapat membentuk pengetahuan dan perilaku yang akan mereka bawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Mendukung SDGs

Program Literasi Ekologi Pasca Bencana di SD Negeri 050770 Paya Bengkuang juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Pendidikan lingkungan dan kebencanaan sejak sekolah dasar diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga memiliki kepedulian, kemampuan beradaptasi, serta tanggung jawab untuk menjaga lingkungan.

Melalui kolaborasi antara FISIP USU, dosen, mahasiswa, guru, dan siswa, program ini diharapkan menjadi salah satu model edukasi kebencanaan berbasis sekolah yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Program tersebut menegaskan bahwa membangun masyarakat tangguh bencana tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana datang, dan pendidikan merupakan salah satu fondasi terpenting untuk membentuk ketangguhan tersebut.

Dari ruang kelas SD Negeri 050770 Paya Bengkuang, literasi ekologi diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan: memahami lingkungan, menjaga kebersihan, mengenali risiko, dan siap bertindak ketika bencana terjadi.

BERITA SUMATERA UTARA

Writer: RM | Editor: FS