BERITA UNGGULAN Sekoci Feminis Gelar Kelas Feminis Dasar, Ajak Mahasiswa UNIMED Memutus Budaya Diam...

Sekoci Feminis Gelar Kelas Feminis Dasar, Ajak Mahasiswa UNIMED Memutus Budaya Diam terhadap Kekerasan

MEDAN, inidetik.com — Ketika kekerasan dan perundungan dianggap sebagai candaan, korban justru disalahkan, atau orang-orang di sekitar memilih diam, ketidakadilan berisiko terus berlangsung. Membongkar kebiasaan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman tentang kesetaraan gender. Diperlukan keberanian untuk mengenali kekerasan, membangun solidaritas, dan mengambil tindakan untuk mendukung mereka yang terdampak.

Semangat tersebut diangkat dalam Kelas Feminis Dasar bertajuk “Gender dan Feminisme: Memahami Perbedaan, Kesetaraan, dan Keadilan” yang diselenggarakan Sekoci Feminis di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan (UNIMED), Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini didukung oleh Institut KAPAL Perempuan dan difasilitasi oleh Sry Lestari Samosir, S.Pd., M.Sos., dosen Pendidikan Sejarah UNIMED.

Kelas ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender dengan Perspektif Gender Transformatif yang diselenggarakan Institut KAPAL Perempuan dengan dukungan Plan Indonesia dan Uni Eropa pada 6–10 April 2026 di Aloft Jakarta Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Sry merupakan salah satu peserta pelatihan yang memperoleh bantuan insentif untuk menyelenggarakan program Kelas Feminis Dasar, khususnya bagi mahasiswa. Melalui program ini, pengetahuan mengenai perspektif gender transformatif dibawa ke ruang belajar kampus agar mahasiswa dapat memahami persoalan gender dan ketidakadilan secara lebih kritis.

Kegiatan menghadirkan Dr. (Cand.) Dini Usman, S.Sos., M.M., Ketua Deli Art Community, sebagai narasumber. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, serta mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Mengenali gender sebelum membicarakan ketidakadilan

Pembelajaran diawali dengan pengenalan gender dan feminisme sebagai dasar untuk memahami bagaimana perbedaan biologis, peran sosial, norma, dan harapan masyarakat membentuk pengalaman seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta diajak memahami bahwa gender tidak hanya berkaitan dengan identitas atau perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga dengan konstruksi sosial yang memengaruhi pembagian peran, kesempatan, akses terhadap sumber daya, serta posisi seseorang dalam relasi sosial.

Berita Terkait  Akademisi Unimed Soroti Pro-Kontra Program Sekolah Rakyat di TVRI Sumut

Pemahaman ini penting karena berbagai ketimpangan kerap tersembunyi di balik anggapan bahwa pembagian peran tertentu merupakan sesuatu yang alamiah. Stereotip tentang kepemimpinan, pekerjaan domestik, ekspresi emosi, maupun kemampuan seseorang dapat membatasi ruang gerak dan kesempatan berdasarkan harapan sosial terhadap gender.

Melalui pengenalan tersebut, peserta diajak mempertanyakan bagaimana norma gender terbentuk, siapa yang diuntungkan atau dirugikan, dan bagaimana norma yang tidak adil dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengenalan gender menjadi pijakan untuk memahami feminisme sebagai perspektif kritis yang tidak hanya membicarakan kesetaraan, tetapi juga mempertanyakan relasi kuasa dan kondisi sosial yang melanggengkan ketidakadilan.

Membongkar persoalan di balik kekerasan

Setelah membahas pengenalan gender dan feminisme, pembelajaran berlanjut pada pembongkaran persoalan kekerasan menggunakan metode pohon masalah. Melalui metode ini, peserta diajak mengidentifikasi persoalan utama, menelusuri faktor-faktor penyebab, dan memahami dampak yang ditimbulkan.

Pendekatan tersebut membantu peserta melihat bahwa kekerasan tidak selalu berdiri sebagai persoalan individual. Norma sosial yang diskriminatif, relasi kuasa yang timpang, budaya menyalahkan korban, dan pembiaran terhadap perundungan dapat turut menciptakan lingkungan yang memungkinkan kekerasan terus berulang.

Ketika tindakan merendahkan dianggap sebagai candaan atau pengalaman korban diremehkan, persoalan tidak hanya terletak pada tindakan pelaku. Respons lingkungan juga perlu dipertanyakan, terutama ketika orang-orang di sekitarnya memilih tidak terlibat atau menganggap persoalan tersebut bukan urusan mereka.

Melalui pemetaan masalah, peserta diajak bergerak dari sekadar mengenali tindakan kekerasan menuju pemahaman tentang kondisi sosial yang melanggengkannya. Dengan demikian, upaya pencegahan tidak berhenti pada imbauan untuk berperilaku baik, tetapi juga mencakup perubahan cara pandang dan kebiasaan yang menormalisasi ketidakadilan.

Menjadi upstander, bukan penonton

Pembelajaran kemudian berlanjut pada pengenalan peran upstander, yaitu seseorang yang mengambil sikap ketika menyaksikan kekerasan, perundungan, atau perlakuan tidak adil.

Berita Terkait  Nora Idah Nita Panaskan Mesin Partai, Demokrat Siap Rebut 2029

Menjadi upstander tidak selalu berarti menghadapi pelaku secara langsung. Mendengarkan korban tanpa menghakimi, memberikan dukungan, membantu mengakses layanan advokasi, menjaga kerahasiaan, dan menghormati keputusan korban juga merupakan bentuk keberanian.

Sikap tersebut penting untuk memutus budaya diam yang dapat membuat korban menghadapi kekerasan seorang diri. Ketika lingkungan memilih tidak merespons, korban berisiko kehilangan dukungan yang dibutuhkan untuk mencari pertolongan dan memperoleh keadilan.

Namun, keberanian bertindak perlu disertai pemahaman tentang keselamatan dan kebutuhan korban. Tidak semua situasi aman untuk dihadapi secara langsung. Karena itu, dukungan yang bertanggung jawab harus mempertimbangkan situasi, menghormati pilihan korban, dan membantu menghubungkannya dengan layanan yang sesuai.

Pembelajaran ini menegaskan bahwa solidaritas tidak cukup diwujudkan melalui rasa simpati. Solidaritas juga menuntut tindakan untuk tidak ikut menormalisasi kekerasan, tidak memperkuat stigma, dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Konten kreatif untuk menyebarluaskan kesadaran gender

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembuatan konten kreatif untuk menyebarluaskan kesadaran tentang kesetaraan gender. Melalui aktivitas ini, peserta diajak menerjemahkan pemahaman mengenai gender, feminisme, dan kekerasan menjadi pesan yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Konten kreatif menjadi sarana untuk membicarakan persoalan gender dengan cara yang komunikatif. Melalui pesan visual maupun narasi, mahasiswa dapat mengajak masyarakat mempertanyakan stereotip, mengenali kekerasan yang kerap dianggap wajar, dan memahami pentingnya mendukung korban.

Namun, kampanye kesetaraan tidak cukup hanya mengandalkan pesan yang menarik perhatian. Konten perlu disusun secara bertanggung jawab, tidak menyalahkan korban, tidak memperkuat stigma, dan menyampaikan persoalan secara tepat.

Kegiatan ini menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima materi, tetapi juga sebagai pihak yang dapat berkontribusi dalam menyebarkan pengetahuan dan membangun kesadaran sosial. Dengan demikian, pembelajaran feminisme diharapkan dapat melampaui ruang kelas dan menjangkau lingkungan pertemanan, organisasi, serta ruang digital.

Berita Terkait  Dari Ruang Belajar ke Gerakan, SEKOCI Perkuat Jejaring Cegah Kekerasan Berbasis Gender
Sekoci Feminis dan keberlanjutan gerakan

Kelas Feminis Dasar menjadi bagian dari upaya mengembangkan Sekoci Feminis sebagai ruang belajar dan gerakan yang berkelanjutan. Komunitas yang diinisiasi oleh Sry Lestari Samosir ini membawa lima nilai utama: solidaritas, edukasi, feminisme kritis, advokasi, dan inklusi.

Kelima nilai tersebut menjadi landasan untuk membangun ruang bersama yang tidak hanya membicarakan kesetaraan, tetapi juga mendorong anggotanya memahami ketimpangan, mendukung mereka yang mengalami ketidakadilan, dan mengembangkan tindakan yang relevan dengan kebutuhan lingkungan sekitar.

Melalui semangat “Membongkar Ketimpangan, Merawat Kesetaraan”, Sekoci Feminis diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terus belajar, berdiskusi, bertukar pengalaman, dan membangun solidaritas lintas disiplin.

Bagi Sry, keberlanjutan pendidikan feminisme menjadi hal penting agar pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tidak berhenti pada peserta yang mengikutinya. Pengetahuan tersebut perlu dibagikan dan dikembangkan sehingga semakin banyak mahasiswa memiliki kesempatan untuk memahami persoalan gender, mengenali kekerasan, dan mengambil peran dalam merespons ketidakadilan.

Melalui Kelas Feminis Dasar dan pengembangan Sekoci Feminis, pendidikan feminisme diharapkan dapat tumbuh menjadi praktik sosial yang mendorong perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, memutus budaya diam terhadap kekerasan membutuhkan keterlibatan bersama. Perubahan dapat dimulai dengan mengenali ketimpangan gender, mendengarkan korban, menolak normalisasi perundungan, memberikan dukungan yang aman, dan membangun lingkungan yang tidak membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa respons.

Melalui Sekoci Feminis, semangat membongkar ketimpangan dan merawat kesetaraan diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan edukasi, solidaritas, dan advokasi yang berkelanjutan.

Sekoci Feminis — Solidaritas, Edukasi, Feminis Kritis, Advokasi, Inklusi.

Ikuti perkembangan kegiatan Sekoci Feminis melalui Instagram @sekoci.feminis.

BERITA SUMATERA UTARA

Writer: Sry | Editor: FS