Siraman Rohani Belajar dari Lebah, Menjadi Manusia yang Hadir Membawa Manfaat

Belajar dari Lebah, Menjadi Manusia yang Hadir Membawa Manfaat

inidetik.com | SIRAMAN ROHANI — Kehidupan manusia hari ini bergerak begitu cepat. Teknologi berkembang, informasi datang silih berganti, media sosial membuat seseorang dapat berbicara kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Namun, di tengah kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan sederhana yang tetap relevan untuk kita renungkan:

Apa manfaat yang kita berikan kepada orang lain dari keberadaan kita?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tekanan ekonomi, perselisihan sosial, derasnya informasi di ruang digital hingga persoalan lingkungan yang semakin nyata.

Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang saleh secara individual. Nilai keislaman juga tercermin dari sejauh mana kehadiran seseorang memberikan kebaikan dan kemaslahatan bagi kehidupan di sekitarnya.

Salah satu perumpamaan menarik mengenai hal tersebut dapat ditemukan dalam materi Kumpulan Khutbah Jum’at Inspiratif karya H. Khairul Anam, S.H., M.Kes. Buku tersebut mengangkat perilaku semut, laba-laba dan lebah sebagai bahan renungan bagi manusia.

Semut, Laba-Laba dan Lebah

Dalam buku tersebut, semut digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kebiasaan mengumpulkan makanan sedikit demi sedikit. Perumpamaan itu kemudian menjadi bahan refleksi agar manusia tidak terjebak pada sifat serakah, menumpuk sesuatu secara berlebihan dan melupakan kepentingan orang lain.

Laba-laba memberikan gambaran yang berbeda. Al-Qur’an menggunakan rumah laba-laba sebagai perumpamaan tentang lemahnya tempat perlindungan. Dalam materi khutbah tersebut, gambaran itu dikaitkan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat yang kehilangan keharmonisan, kepedulian serta hubungan yang kuat di antara sesamanya.

Sementara lebah menghadirkan pelajaran yang sangat menarik.

Al-Qur’an mengabadikan lebah dalam Surah An-Nahl ayat 68–69. Lebah diperintahkan untuk membuat sarang, mencari makanan dari berbagai buah-buahan dan menghasilkan madu yang memiliki manfaat bagi manusia.

Dari sini kita mendapatkan sebuah pesan sederhana:

Berita Terkait  Kemarau Panjang dan Krisis Air, Saatnya Kembali Mengingat Kebesaran Allah

Hidup bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga tentang menghasilkan dan memberi.

Menjadi “Manusia Lebah”

Lebah mengambil sari bunga, tetapi tidak menghancurkan bunga.

Lebah menghasilkan madu, sesuatu yang dapat dimanfaatkan manusia.

Lebah hidup dalam keteraturan dan pembagian kerja.

Lebah juga tidak dikenal sebagai makhluk yang merusak lingkungan tempatnya berada.

Dalam buku tersebut, sifat-sifat ini dijadikan ibrah bagi manusia agar di mana pun berada tidak menjadi sumber mudarat, tidak menyusahkan orang lain dan tidak melakukan kezaliman, tetapi justru menghadirkan manfaat.

Inilah konsep yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Menjadi manusia yang baik bukan hanya ketika berada di masjid. Kebaikan juga harus terlihat ketika berada di rumah, kantor, pasar, kampus, lingkungan masyarakat maupun ruang digital.

Di rumah, menjadi sumber ketenangan.

Di tempat kerja, menjadi orang yang dapat dipercaya.

Di tengah masyarakat, menjadi pembawa solusi.

Di media sosial, menjadi penyebar informasi yang benar dan menyejukkan.

Dan ketika memperoleh amanah, menjaganya dengan penuh tanggung jawab.

Di Tengah Musim Sulit, Jangan Menambah Kesulitan

Kemarau panjang telah meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Pemerintah pada September 2026 juga melaporkan peningkatan dampak kebakaran di sejumlah wilayah dan mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membuka lahan.

Keadaan tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan. Ketika udara tercemar, masyarakat dapat merasakan dampaknya. Ketika sumber air berkurang, kehidupan sehari-hari terganggu. Ketika bencana terjadi, kelompok masyarakat yang rentan sering kali menjadi pihak yang paling merasakan akibatnya.

Di sinilah nilai agama menemukan relevansinya.

Manusia diperintahkan untuk menjaga kehidupan dan tidak membuat kerusakan.

Karena itu, menjadi “manusia lebah” dalam konteks kehidupan hari ini juga berarti menjaga lingkungan, menggunakan sumber daya secara bijaksana dan tidak melakukan tindakan yang merugikan masyarakat luas.

Berita Terkait  Gunung Sinabung Erupsi, Penerbangan Kualanamu Sempat Terhenti: Saatnya Belajar tentang Kesabaran
Tidak Semua yang Kita Miliki Harus Kita Tumpuk

Kehidupan modern sering membuat manusia mengukur keberhasilan dari apa yang berhasil dikumpulkan.

Rumah yang semakin besar.

Kendaraan yang semakin baik.

Tabungan yang semakin banyak.

Jabatan yang semakin tinggi.

Pengikut media sosial yang semakin banyak.

Semua itu tidak salah selama diperoleh dan digunakan dengan cara yang benar. Persoalannya muncul ketika manusia mulai menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.

Materi khutbah tersebut mengingatkan tentang gambaran manusia yang seperti “semut”, yaitu mereka yang terus menghimpun dan menumpuk harta tanpa memperhatikan pemanfaatannya untuk kebaikan, termasuk melalui zakat dan sedekah.

Karena itu, kekayaan seharusnya tidak berhenti pada kepemilikan.

Rezeki yang baik adalah rezeki yang menghadirkan kebermanfaatan.

Ilmu yang dimiliki dapat diajarkan.

Harta yang dimiliki dapat dibagikan.

Jabatan yang dimiliki dapat digunakan untuk melayani.

Kekuatan yang dimiliki dapat digunakan untuk melindungi.

Pengaruh yang dimiliki dapat digunakan untuk mengajak kepada kebaikan.

Menjaga Apa yang Keluar dari Diri Kita

Ada satu pesan lain dari perumpamaan lebah yang sangat relevan dengan era media sosial.

Rasulullah SAW dalam buku tersebut mengibaratkan seorang mukmin seperti lebah: tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang baik dan ketika berada di suatu tempat tidak merusak.

Jika diterapkan dalam kehidupan digital, pesan tersebut mengandung refleksi yang sangat kuat.

Sebelum membagikan sebuah informasi, tanyakan:

Apakah informasi ini benar?

Sebelum menulis komentar, tanyakan:

Apakah perkataan ini perlu dan bermanfaat?

Sebelum menyebarkan sebuah kabar tentang orang lain, tanyakan:

Apakah saya sedang menyampaikan kebaikan atau justru membuka aib dan memperbesar persoalan?

Sebab satu unggahan yang dibuat dalam beberapa detik dapat menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memperbaiki dampaknya.

Karena itu, akhlak tidak boleh berhenti di dunia nyata. Akhlak juga harus hadir di ruang digital.

Berita Terkait  Tiga Sifat Mulia Nabi Muhammad SAW Berdasarkan QS. At-Taubah Ayat 128
Kehadiran yang Dinantikan

Ada orang yang ketika datang membuat suasana menjadi lebih tenang.

Ada pula yang ketika hadir justru membuat persoalan semakin rumit.

Ada orang yang perkataannya membuat orang lain mendapatkan semangat.

Ada pula yang ucapannya meninggalkan luka.

Ada orang yang ketika memperoleh amanah membuat banyak orang terbantu.

Ada pula yang menggunakan amanah untuk kepentingan dirinya sendiri.

Perbedaan tersebut bukan semata-mata tentang status sosial. Ia merupakan pilihan karakter.

Materi khutbah dalam buku tersebut menggambarkan “manusia lebah” sebagai sosok yang tidak mengambil hak orang lain, tidak mengonsumsi sesuatu yang haram, menjaga perkataan dan tidak menjadi sumber kericuhan. Kehadirannya justru diharapkan oleh masyarakat karena memberikan manfaat.

Sudahkah Kita Menjadi Manusia yang Bermanfaat?

Pada akhirnya, setiap orang perlu melakukan muhasabah.

Bukan berapa banyak orang yang mengenal kita, tetapi berapa banyak orang yang pernah merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Bukan seberapa tinggi posisi kita, tetapi seberapa baik amanah yang kita jalankan.

Bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang lahir dari rezeki yang Allah titipkan.

Dan bukan seberapa sering kita berbicara tentang kebaikan, tetapi seberapa nyata kebaikan itu hadir dalam kehidupan.

Jadilah seperti lebah.

Mengambil yang baik.

Menghasilkan yang baik.

Menjaga lingkungan.

Tidak merusak.

Tidak mengambil hak orang lain.

Dan yang paling penting, di mana pun berada, berusahalah meninggalkan manfaat.

Sebab boleh jadi kita tidak memiliki banyak hal untuk diwariskan kepada dunia. Tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk meninggalkan kebaikan.

Dan ketika suatu hari kita tidak lagi berada di tengah-tengah mereka, semoga orang lain masih dapat merasakan manfaat dari kebaikan yang pernah kita lakukan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Redaksi inidetik.com